ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Agroekologi Bisa Jadi Solusi Pertanian Masa Depan

Senin, 19 November 2018 | 05:36 WIB
H
B
Penulis: Heriyanto | Editor: B1
Ilustrasi tanaman jagung.
Ilustrasi tanaman jagung. (Antara)

Bogor - Agroekologi sesungguhnya memiliki kemampuan menghasilkan produksi pertanian lebih tinggi dibanding pola pertanian konvensional. Sayangnya, agroekologi masih belum mendapatkan perhatian dan dukungan dari akademisi maupun pemerintah di Indonesia.

Hal tersebut jadi benang merah dari diskusi bertajuk Strategi Mengarustamakan Agroekologi yang digagas Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) di Bogor, akhir pekan lalu.

"Agroekologi itu punya masa depan karena sejumlah riset di lapangan membuktikan bahwa agroekologi mampu menjawab tantangan pertumbuhan penduduk," kata Kepala Departemen Proteksi Tanaman IPB Dr. Suryo Wiyono.

Suryo mengatakan prinsip dasar dari agroekologi adalah pola pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pola ini, kata dia, tetap mengadopsi teknologi dalam pola budidaya.
"Kita sudah melakukan uji coba di Cepu pada padi. Begitu juga di Klaten. Hasilnya ternyata luar biasa, pola agroekologi bisa sampai 13 ton (per hektare)," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Hal sama ditegaskan pula oleh Lily Batara dari KRKP. Ia mengatakan hasil penelitian tesisnya menunjukkan bahwa agroekologi memiliki kemampuan produksi yang lebih baik dibanding pertanian konvensional. Pola pertanian konvensional merujuk pada penggunaan bahan-bahan kimiawi seperti pestisida dan pupuk yang berpotensi merusakan ekosistem lingkungan.

"Tesis saya membuktikan itu, di Sumatera Barat, produksi (padi) tinggi. Bisa menghasilkan 11 ton per hektare," ujarnya.

Lily menjelaskan gerakan agroekologi ini sebenarnya sudah mulai muncul di Indonesia sejak tahun 2000-an awal. Kendala yang dihadapi, kata dia, kebijakan yang belum mendukung agar agroekologi dijadikan pilihan dalam budidaya. "Lalu preferensi konsumen kita masih belum mendukung dan rantai tata niaga (produksi pertanian) konvensional yang masih sangat dominan menguasai pasar," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Koleksi Bank Benih, Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia (AB2TI) Azwar Hadi Nasution, mengatakan untuk mengarusutamakan agroekologi di Indonesia harus menemukan definisi yang jelas dan khas. Di dunia, gerakan agroekologi ini didorong oleh pemikiran yang berbeda-beda.

Untuk membangun defenisi agroekologi di Indonesia, Azwar mengatakan setidaknya ada enam prinsip agroekologi yang telah disusun oleh ilmuwan dari Berkeley University. Keenam prinsip itu di antaranya menjaga keberagaman sumber daya genetika, menghasilkan benih secara mandiri, menghargai kearifan dan pengetahuan lokal.

"Di Indonesia jika kita bicara agroekologi maka kita memang harus tentukan definisi dan prinsip menurut kita sendiri," katanya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Viral Pelecehan Seksual Mahasiswa IPB, Chat Mesum Berujung Intimidasi

Viral Pelecehan Seksual Mahasiswa IPB, Chat Mesum Berujung Intimidasi

JAWA BARAT
IPB Dorong Limbah Sawit Jadi Produk Bernilai Ekonomi

IPB Dorong Limbah Sawit Jadi Produk Bernilai Ekonomi

EKONOMI
IPB Desak Sinkronisasi Regulasi agar Puncak Tak Kehilangan Jati Diri

IPB Desak Sinkronisasi Regulasi agar Puncak Tak Kehilangan Jati Diri

JAWA BARAT
IPB Serukan Dialog dan Persatuan di Tengah Gelombang Demo

IPB Serukan Dialog dan Persatuan di Tengah Gelombang Demo

NASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon