ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Imbas Pandemi, Operator Angkutan Darat Rugi Rp 15,9 Triliun Tiap Bulan

Jumat, 18 September 2020 | 22:24 WIB
TD
FH
Penulis: Thresa Sandra Desfika | Editor: FER
Petugas melakukan pengecekan suhu tubuh kepada penumpang bus Damri di Kemayoran, Jakarta, Senin, 27 Juli 2020.
Petugas melakukan pengecekan suhu tubuh kepada penumpang bus Damri di Kemayoran, Jakarta, Senin, 27 Juli 2020. (Beritasatu Photo/Ruht Semiono)

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Perhubungan (Kemhub) menyebut kerugian operator transportasi darat akibat sepinya bisnia karena pandemi Covid-19 mencapai Rp15,9 triliun tiap bulan.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemhub, Budi Setiyadi mengatakan, pihaknya bersama dengan Organisasi Angkutan Darat (Organda) menghitung kerugian yang telah dialami pelaku bisnis angkutan darat selama pandemi Covid-19.

"Kami mencoba diskusi dengan Organda dan ini masih angka kasar. Kerugian yang didapatkan karena penurunan penumpang dan kendaraan yang melayani dalam 1 bulan itu untuk AKAP (antar kota antar provinsi) saja mencapai Rp1 triliun," kata Budi Setiyadi dalam webinar Kebijakan Pengendalian dan Ketahanan Bisnis Angkutan Jalan dan Perkeretaapian saat Pandemi, Jumat (18/9/2020).

ADVERTISEMENT

Secara keseluruhan, baik itu untuk angkutan penumpanh maupun barang, kerugian yang diderita pelaku usaha transportasi darat mencapai Rp 15,9 triliun tiap bulan akibat penurunan jumlah penumpang dan penurunan kendaraan yang melayani. "Data ini kami dapatkan setelah diskusi dengan Organda. Ini sifatnya masih perhitungan kasar," ujarnya.

Budi menyebutkan, saat ini pemerintah berupaya agar para operator angkutan darat itu bisa tetap bertahan hingga masa pandemi berlalu. Untuk itu, pemerintah berkomitmen memberikan relaksasi bagi operator angkutan darat.

"Mereka memberi pelayanan baik kepada masyarakat sebelum pandemi. Sekarang merugi. Sekarang yang menjadi perhatian kami bagaimana kita tetap mempertahankan operator itu bisa tetap eksis sampai pandemi selesai. Jadi pemerintah hadir diskusi dengan operator," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan, Umiyatun Hayati Triastuti menjelaskan, pihaknya melakukan kajian untuk mencari solusi bagi ekosistem bisnis transportasi di tengah tekanan pandemi.

"Terdapat sejumlah klaster kajian, di antaranya klaster pertama, yakni evaluasi kebijakan terkait kebiasaan bertransportasi di pandemi Covid-19. Klaster kedua apakah benar transportasi menyebabkan penyebaran Covid-19 atau tidak," tutur Umiyatun.

Klaster ketiga adalah terkait ketahanan dan adaptasi selama masa pandemi Covid-19 dan sejauh mana resiliensi untuk menjawab keberlanjutan transportasi umum. "Kami menerima masukan untuk mempertajam kajian dan penelitian di masa mendatang," papar Umiyatun.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon