Gandeng China, Indopura Bangun Pabrik Bauksit Rp7 T di Batam
Rabu, 21 November 2012 | 14:33 WIB
Pendanaan aksi korporasi tersebut didukung China Construction Bank International (CCBI).
Perusahaan tambang, PT Indopura Resources menggandeng perusahaan asal China, Hainan Joint Enterprise Business Service Co.Ltd untuk membangun pabrik pengolahan bauksit refinery (pemurnian) dan alumina (Chemical Grade Alumina ) di Batam, Kepulauan Riau dengan investasi US$700 juta (Rp7 triliun).
Pendanaan aksi korporasi tersebut didukung China Construction Bank International (CCBI).
Hal tersebut ditandai dengan penandatanganan kejasama (Co-Operation Agreement) investasi antara kedua perusahaan.
'Kerjasama ini menjadikan bahan bauksit memiliki nilai tambah di Indonesia," kata Managing Director Indopura Resources, M Arief Winata, di Batam, Rabu (21/11).
Dia mengatakan, saat ini Indopura tengah melakkukan perencanaan dan desain pembangunan konstruksi yang diharapkan rampung kurang lebih satu tahun kedepan.
Dalam proses tersebut dilakukan studi kelayakan termasuk Engineering, Procurement, Construction (EPC) yang dilakukan GAMI, kontraktor EPC anak perusahaan China Aluminum Company. "Ditargetkan kontruksi pabrik tersebut mulai dibangun pada tahun 2014," kata Arief.
Menurut Arief, kerjasama ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah bahan baku mineral bauksit di Indonesia. Langkah ini seiring dengan kebijakan pemerintah yang mewajibkan perusahaan tambang di Indonesia membangun pabrik pengolahan di dalam negeri.
Dengan demikian, diharapkan pada 2014 mendatang sudah tidak ada lagi perusahaan lokal yang mengekspor mineral tambang dalam bentuk bahan baku.
Dengan demikian, diharapkan pada 2014 mendatang sudah tidak ada lagi perusahaan lokal yang mengekspor mineral tambang dalam bentuk bahan baku. "Bahan baku di wilayah ini akan mempunyai nilai tambah (added value) terhadap perekonomian di Indonesia," kata Arief.
Untuk bahan baku, Arief mengatakan akan disuplai dari Ketapang, Kalimantan Barat dengan areal tambang seluas 27 ribu hektar melalui PT Laman Mining. “Kita membutuhkan 5 ribu pekerja dan butuh lahan 160 hektar hingga 170 hektar untuk pembangunan pabrik ini,” kata Arief
Kerjasama ini juga diharapkan dapat terjadi alih teknologi dari perusahaan China kepada Indopura Resources.
Perusahaan tambang, PT Indopura Resources menggandeng perusahaan asal China, Hainan Joint Enterprise Business Service Co.Ltd untuk membangun pabrik pengolahan bauksit refinery (pemurnian) dan alumina (Chemical Grade Alumina ) di Batam, Kepulauan Riau dengan investasi US$700 juta (Rp7 triliun).
Pendanaan aksi korporasi tersebut didukung China Construction Bank International (CCBI).
Hal tersebut ditandai dengan penandatanganan kejasama (Co-Operation Agreement) investasi antara kedua perusahaan.
'Kerjasama ini menjadikan bahan bauksit memiliki nilai tambah di Indonesia," kata Managing Director Indopura Resources, M Arief Winata, di Batam, Rabu (21/11).
Dia mengatakan, saat ini Indopura tengah melakkukan perencanaan dan desain pembangunan konstruksi yang diharapkan rampung kurang lebih satu tahun kedepan.
Dalam proses tersebut dilakukan studi kelayakan termasuk Engineering, Procurement, Construction (EPC) yang dilakukan GAMI, kontraktor EPC anak perusahaan China Aluminum Company. "Ditargetkan kontruksi pabrik tersebut mulai dibangun pada tahun 2014," kata Arief.
Menurut Arief, kerjasama ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah bahan baku mineral bauksit di Indonesia. Langkah ini seiring dengan kebijakan pemerintah yang mewajibkan perusahaan tambang di Indonesia membangun pabrik pengolahan di dalam negeri.
Dengan demikian, diharapkan pada 2014 mendatang sudah tidak ada lagi perusahaan lokal yang mengekspor mineral tambang dalam bentuk bahan baku.
Dengan demikian, diharapkan pada 2014 mendatang sudah tidak ada lagi perusahaan lokal yang mengekspor mineral tambang dalam bentuk bahan baku. "Bahan baku di wilayah ini akan mempunyai nilai tambah (added value) terhadap perekonomian di Indonesia," kata Arief.
Untuk bahan baku, Arief mengatakan akan disuplai dari Ketapang, Kalimantan Barat dengan areal tambang seluas 27 ribu hektar melalui PT Laman Mining. “Kita membutuhkan 5 ribu pekerja dan butuh lahan 160 hektar hingga 170 hektar untuk pembangunan pabrik ini,” kata Arief
Kerjasama ini juga diharapkan dapat terjadi alih teknologi dari perusahaan China kepada Indopura Resources.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




