Jejak Retak di Kanvas Jiwa: Pelajaran dari Badai yang BerlaluSumber: Jabaronline.com
JABARONLINE.COM - Langit Jakarta sore itu seabu-abu hatiku, terbentang luas tanpa janji mentari. Aku berdiri di ambang pintu yang dulu kukira adalah akhir segalanya, padahal ia hanyalah gerbang menuju babak baru yang jauh lebih berat. Rasa kehilangan itu menggerogoti, meninggalkan lubang menganga di tengah dada yang dulu penuh euforia.
Aku ingat betul bagaimana dulu aku berlari dari setiap masalah, menganggap dunia berputar hanya untuk memanjakanku. Kesalahan pertama yang kuperbuat terasa seperti kiamat pribadi, padahal itu hanyalah koreksi kecil dari semesta. Aku belum mengerti bahwa kedewasaan bukanlah tentang pencapaian, melainkan tentang cara kita menerima kegagalan.
Perjalanan ini mengajarkan bahwa rapuh bukanlah aib, melainkan fondasi dari kekuatan sejati. Ada malam-malam panjang di mana aku hanya bisa menatap langit-langit kamar, menyusun kepingan harga diri yang tercerai-berai oleh kritik tajam dan ekspektasi yang tak terpenuhi. Ini adalah bagian paling pahit dari Novel kehidupan yang sedang kutulis.
Jejak Retak di Kanvas Jiwa: Pelajaran dari Badai yang Berlalu
BERITA LAINNYA
BERITA TERKINI
Pilot AS yang Hilang di Iran Diduga Berkamuflase Menunggu Diselamatkan
3
TNI Menunggu Hasil Investigasi Terkait Gugurnya 3 Prajurit di Lebanon




