Di Pedalaman Kalimantan, Kirim SMS Harus Jalan Kaki 3 Jam
Minggu, 21 Juli 2013 | 15:33 WIB
Sampit - Komunikasi yang mudah, ternyata belum dapat dinikmati masyaraka Indonesia pada umumnya. Khususnya bagi masyarakatt yang tinggal di daerah pedalaman, termasuk pedalaman Kalimantan.
Di Kabuoaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, sarana komunikasi masih sangat terbatas. Bahkan warga pedalaman sampai harus berjalan hampir tiga jam, untuk mendapatkan sinyal ponsel dan mengirimkan SMS atau pesan singkat.
"Kalau mau mengirim SMS atau menelepon, kami harus berjalan kaki dulu sekitar tiga jam naik ke gunung untuk mencari sinyal telepon seluler. Kami juga harus membawa terpal, mengantisipasi kalau hujan turun," ujar Kepala Desa Rantau Sawang Kecamatan Telaga Antang, Helwiteryopi di Sampit, Minggu (21/7).
Desa Rantau Sawang adalah satu dari 24 desa di Kotim yang masuk kategori desa tertinggal. Desa ini saat ini dihuni 395 jiwa dengan mata pencaharian penduduknya sebagian besar adalah bertani.
Keterasingan menjadi kendala utama masyarakat setempat sehingga cukup terbatas dalam beraktivitas. Desa ini letaknya sangat jauh dari Kota Sampit dan hanya bisa ditempuh melalui jalur sungai dengan total waktu tempuh selama 12 jam.
Meski merupakan daerah tertinggal, komunikasi sangat penting bagi warga agar bisa mengetahui kabar dari kerabat atau kenalan mereka di kawasan lainnya di Kotim. Termasuk bagi Helwiteryopi, dirinya terpaksa harus rutin mengaktifkan telepon selulernya pada waktu tertentu untuk mengetahui apakah ada informasi penting dari pemerintah daerah atau pihak lain.
"Telepon seluler ini baru terpakai kalau saya pergi ke Sampit pas ada urusan, atau ketika saya memang sengaja naik mencari sinyal untuk mengecek siapa tahu ada SMS informasi penting kepada saya," sambungnya.
Selain pembangunan infrastruktur, masyarakat Rantau Sawang juga berharap dukungan sarana komunikasi. Mereka meminta pemerintah daerah lebih memerhatikan nasib warga desa yang secara hukum letaknya masih dalam kawasan hutan produksi tersebut.
Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Kabupaten Kotim, Redy Setiawan mengatakan, penanganan 24 desa tertinggal secara bersama-sama oleh seluruh instansi melalui bidang masing-masing.
"Tiap desa punya karakter berbeda sehingga penanganannya juga harus berbeda. Memang ada beberapa desa yang perlu penanganan khusus seperti Desa Rantau Sawang, Rantau Suang dan Tumbang Gagu. Cara penanganan desa-desa ini tidak bisa disamakan dengan desa tertinggal lainnya," ucap Redy.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




