Ahok: Pemimpin Jakarta Hanya Butuh Asah Otot

Kamis, 12 September 2013 | 13:19 WIB
LT
B
Penulis: Lenny Tristia Tambun | Editor: B1
Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)
Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) (ANTARA FOTO/Istimewa)

Jakarta - Di hadapan puluhan siswa Sekolah Dasar (SD) Mahanaim yang berkunjung ke Balai Kota DKI, Jakarta, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama mengatakan, menjadi pemimpin Jakarta hanya membutuhkan pengasahan otot saja.

"Memimpin Kota Jakarta tidak perlu mengasah otak, karena semua pegawai dan pejabat di jajaran Pemprov DKI itu sudah pinter-pinter semua. Banyak yang cerdas," kata Basuki di Balai Kota DKI, Jakarta, Kamis (12/9).

Pernyataan itu dikemukakannya menjawab pertanyaan salah seorang siswa SD Mahanaim mengenai hal yang dibutuhkan untuk memimpin Jakarta.

Ahok, sapaan akrab Basuki, menjelaskan, bahwa yang diperlukan seseorang dalam memimpin ibu kota ini adalah mengasah otot.

Karena kondisi di Jakarta saat ini, kata dia, banyak warga yang melanggar peraturan daerah (perda). Seperti berjualan di pinggir jalan yang mengakibatkan kemacetan lalu lintas. Juga ada yang membangun rumah di bantaran kali atau waduk dan di lahan ilegal.

"Jadi yang dibutuhkan itu ya mengasah otot saraf dan jantung setiap hari, supaya nggak deg-degan saat melaksanakan kebijakan yang telah diambil. Supaya jantung sama saraf kita tetap kuat dalam menghadapi penolakan atau protes dari pihak-pihak yang tidak setuju," ujarnya.

Saat ditanya karakteristik warga Jakarta, Ahok mengatakan, kebanyakan pendatang yang tinggal di Jakarta adalah orang-orang yang nekat dan ambisius. Sebab, kalau tidak nekat dan ambisius, mereka tidak akan mau datang ke Jakarta dengan tidak ada keahlian apa pun.

"Orang yang tidak punya ambisi tidak akan mau ke Jakarta. Kayak orang di kampung saya, mereka memilih nyaman tinggal di kampung daripada ke sini," jelasnya.

Selainn itu, Ahok menilai warga Jakarta banyak yang tidak patuh terhadap aturan yang ada dan suka melanggar aturan yang berlaku. Contohnya, buang sampah di sungai yang mengakibatkan banjir, mencuri air dan listrik hingga menyewakan lahan ilegal di pinggiran sungai atau waduk.

"Yang ngeyel-ngeyel juga banyak. Buang sampah sembarangan, dudukin trotoar, waduk disewain, nyolong air, nyolong listrik. Makanya, saya tadi bilang, di Jakarta tidak butuh melatih otak, cuma butuh melatih otot jantung dan saraf. Supaya nggak deg-degan menghadapi mereka," cetusnya sambil tertawa.

Setelah mendengarkan pengarahan dari mantan Bupati Belitung Timur ini, para siswa SD Mahanaim diberi kesempatan melihat-lihat gedung Balai Kota dan ruang kerjanya di lantai dunia.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon