Lifebuoy Bantu Pemerintah Capai MDGs Kesehatan Balita

Jumat, 7 Maret 2014 | 07:54 WIB
MF
B
Penulis: Muhammad Fajar | Editor: B1
Logo 10 Tahun Berbagi Sehat Lifebuoy
Logo 10 Tahun Berbagi Sehat Lifebuoy (Beritasatu.com/Danung Arifin)

Jakarta - PT Unilever Indonesia mendukung pemerintah dalam mengejar salah satu target Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) dalam menekan angka kematian balita dengan program yang mengedukasi perilaku hidup bersih dan sehat.

Lifebuoy merayakan sepuluh tahun program Berbagi Sehat, Kamis (6/3), di Balai Kartini dalam acara bertajuk "10 Tahun Lifebuoy Berbagi Sehat". Program tersebut berjalan sejak tahun 2004 dengan tujuan mengedukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Program ini sekaligus  Target MDGs tersebut adalah 32 per 1000 kelahiran balita hidup di tahun 2015.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) per tahun 2013 menunjukkan prevelensi balita terjangkit diare turun dari 9% di tahun 2007 menjadi 3,5% di tahun 2013.

"Upaya ini merupakan salah satu ambisi dalam strategi Unilever Sustainable Living Plan, yang menjadi panduan dalam menjalankan bisnis secara global," ujar Eva Arisuci Rudjito, Marketing Manager Skin Cleansing PT Unilever Indonesia.

Pencapaian Lifebuoy dalam tahun ke-10 nya ialah jangkauan 10 provinsi, 15.430 sekolah dasar binaan, 263.526 Dokter Kecil binaan Lifebuoy, 2,7 juta siswa sekolah dasar peserta Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), dan 8,6 juta ibu yang telah menerima edukasi PHBS.

Dalam ruang lingkup besar program Berbagi Sehat, PT Unilever diwakili Lifebuoy juga menggarap program "5 Tahun Bisa untuk NTT". Hal tersebut disampaikan oleh Panji Pragiwaksono, selaku Brand Ambassador Lifebuoy, Kamis (6/3) di Balai Kartini, Jakarta.

Program ini dilatarbelakangi tingginya angka kematian balita di Indonesia, dalam hal ini salah satu daerah yang menjadi konsentrasi Lifebuoy adalah provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Lifebuoy memulai program ini dengan mengadopsi sebuah desa yaitu Bitobe, Kabupaten Kupang, NTT.

Minimnya informasi, diakui Panji, sebagai kurangnya uluran tangan ke daerah-daerah seperti NTT. Baginya, yang terpenting bukanlah jumlah bantuan, tapi keinginan membantu.

"Masyarakat perlu tahu keadaan di sana, meski memprihatinkan, mereka bahagia dalam kesederhanaan mereka. Di sini bukan membantu banyak atau sedikit, tapi mau atau tidak membantu," ujar Panji.

Pada kesempatan yang sama, Esther, salah satu dokter kecil dari NTT juga menyampaikan bagaimana program ini diperlukan di NTT.

"Program ini bisa menyehatkan anak-anak di NTT, mereka bisa belajar tanpa halangan dan mencapai cita-cita mereka," ujar Esther.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon