Timses: Tren Penurunan Elektabilitas Jokowi-JK Sudah Berakhir
Minggu, 15 Juni 2014 | 19:00 WIB
Jakarta - Juru bicara tim sukses Jokowi-Jusuf Kalla, Akbar Faisal mengatakan, tren penurunan elektabilitas pasangan nomor urut 2 itu sudah berakhir sejak dua pekan lalu. Sebaliknya elektabilitas saingannya Prabowo_Hatta Rajasa terus menurun.
Hal itu disampailak Akbar Faisal terkait hasil survey yang dirilis Lembaga Survey Indonesia (LSI) pada Minggu (15/6). Menurutnya, rakyat Indonesia tak perlu khawatir dengan munculnya berbagai hasil survey belakangan ini.
"Kami menghargai hasil survey sebagai acuan bagi tim, parpol pendukung dan relawan untuk bekerja lebih keras lagi. Kami tidak pernah khawatir dengan pilihan masyarakat Indonesia terhadap Jokowi-JK terus mengalami kenaikan," ujar Akbar di Jakarta, Minggu (15/6).
Berdasarkan, hasil survey internal tim pemenangan, Jokowi-JK kini berada di angka 49 persen. Sementara Prabowo-Hatta berada diangka 38 persen.
"Namun, kami tidak mau gegabah dengan hasil survey internal. Kami menghargai hasil survey yang ada sekarang," tandasnya.
Kurang dari sebulan jelang pemilu presiden (pilpres) dilaksanakan pada 9 Juli 2014, dukungan terhadap capres Prabowo terus menanjak. Selisih hasil survey terhadap Jokowi terus mengecil.
"Kini selisih antara kedua capres hanya sekitar 6 persen. Pertarungan kedua capres makin ketat. Kedua capres masih punya peluang yang sama untuk menang dan saling mengalahkan," ujar peneliti Lingkaran Survey Indonesia (LSI) Adjie Alfaraby dalam paparan hasil surveynya di Jakarta.
Survei LSI yang dilakukan di bulan Juni, tepatnya pengumpulan data dikerjakan pada tanggal 1- 9 Juni 2014. Survei menggunakan 2.400 responden di seluruh propinsi di Indonesia.
Dada survei terbaru LSI, Juni 2014, setelah penetapan kedua capres dan dimulainya masa kampanye, selisih kedua capres hanya 6 persen. Jika Pilpres dilaksanakan awal Juni 2014 maka dukungan terhadap Jokowi mencapai 45 persen, sementara dukungan terhadap Prabowo sebesar 38,7 persen.
"Sedangkan mereka yang menyatakan belum memutuskan (undecided voters) sebesar 16,3 persen," katanya.
Survei LSI pada September 2013 menunjukkan, selisih kedua capres mencapai 38 persen. Saat itu elektabilitas Jokowi mencapai 50,3 persen, sementara elektabilitas Prabowo sebesar 11,10 persen.
Pada Maret 2014, elektabilitas Jokowi sebesar 46,3 persen sementara elektabilitas Prabowo sebesar 22,1 persen. Artinya selisih kedua capres turun menjadi 24 persen.
Pada Mei 2014, elektabilitas Jokowi sebesar 35,42 persen, sementara elektabilitas Prabowo sebesar 22,75 persen. Artinya selisih kedua capres makin mengecil yaitu sebesar 13 persen. Dan kini pada survei terbaru LSI, Juni 2014, setelah penetapan kedua capres dan dimulainya masa kampanye, selisih kedua capres hanya 6 persen.
"Mengecilnya selisih kedua capres di satu sisi disebabkan oleh menurunnya dukungan pada Jokowi. Di sisi lain, tingginya lompatan elektabilitas Prabowo," ujarnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




