Sembelih Rekan Sekerja, Pria AS Terancam Hukuman Mati

Rabu, 1 Oktober 2014 | 09:37 WIB
YS
B
Penulis: Yuliantino Situmorang | Editor: B1
Ilustrasi pembunuhan
Ilustrasi pembunuhan (Beritasatu.com/Danung Arifin)

Oklahoma - Seorang pria warga negara AS menghadapi ancaman hukuman mati karena menyembelih rekan sekerjanya di sebuah pabrik milik perusahaan Vaughan Foods di Moore, Oklahoma, AS, pekan lalu.

Jaksa penuntut umum menjelaskan, walau saat melakukan penyerangan Alton Nolen (30 tahun) mengucapkan kata-kata dalam bahasa Arab, tetapi pembunuhan itu tampaknya tidak terkait kasus terorisme, melainkan hanya persoalan pekerjaan. Jadi, menurut jaksa, tindakan Nolen belum kuat jika dikaitkan dengan obsesi dengan kasus pemenggalan kepala yang dilakukan kelompok ekstremis Islam yang marak baru-baru ini.

Disebutkan, Nolen menghadapi hukuman mati dengan tuduhan pembunuhan tingkat pertama dalam serangan Kamis (25/9) lalu.

Tindakan menyembelih leher rekan sekerjanya itu tampaknya sebagai aksi balas dendam karena ia diberi sanksi dari tempatnya bekerja.

FBI juga sedang menyelidiki motif serangan itu. Sebab, aksi Nolen bersamaan dengan maraknya aksi pemenggalan dan gelombang kekerasan yang baru-baru terjadi di Timur Tengah.

"Ada semacam obsesi dengan pemenggalan kepala. Tampaknya ini berkaitan dengan minatnya dalam membunuh seseorang seperti itu," kata Jaksa Cleveland County Greg Mashburn.

Selain itu, kata dia, tindakan itu tampaknya terkait dengan keberadaannya yang di-skorsing sehari sebelumnya.

Mashburn mengisahkan, departemen sumber daya manusia di pabrik Vaughan Foods telah memberi sanksi skorsing kepada Nolen Kamis pagi. Sanksi itu berdasarkan pengaduan rekan sekerjanya, Traci Johnson yang mengeluh berselisih dengan Nolen. Disebutkan, Nolen tidak menyukai orang kulit putih.

"Perselisihan itu lebih berkaitan dengan ras, ketimbang upaya mengubah orang," kata Mashburn.

Sebelumnya sempat beredar kabar bahwa Nolen tengah berupaya mempengaruhi rekan-rekan sekerjanya untuk masuk Islam.

Mashburn mengatakan, setelah mendapat sanksi, Nolen pulang ke rumahnya dan mengambil sebilah pisau. Ia kemudian kembali ke pabrik untuk balas dendam.

Menurut keterangan polisi, dia menyimpan pisau di sepatunya ketika ia kembali ke pabrik. Nolen kemudian memasuki kantor administrasi pabrik yang letaknya di pinggiran kota Oklahoma City dan di kantor itu ia menemukan Colleen Hufford (54 tahun).

Menurut jaksa, Nolen menyerang Hufford dari belakang, dan memutuskan kepalanya. Nolen juga menyerang Johnson (43 tahun), karyawan lainnya. Nolen melukai tenggorokan dan pipi kirinya, serta berusaha memenggal kepalanya juga. Namun, Johnson masih bisa diselamatkan.

Chief Operating Officer perusahaan, Mark Vaughan, yang juga deputi sheriff cadangan di Oklahoma City, menghentikan aksi Nolen. Ia melumpuhkan Nolen dengan satu tembakan.

Mashburn mengatakan, dia akan melayangkan dakwaan pembunuhan, tetapi soal dakwaan terorisme ia serahkan ke penyelidik federal.

"Sebab, ia menggunakan beberapa istilah bahasa Arab selama serangan. Inilah yang menjadi alasan FBI terlibat dalam kasus ini," kata Mashburn.

Sementara itu, ibu dan adik Nolen dalam rekaman video yang diposting di internet mengatakan, mereka terkejut dan sedih dengan tuduhan atas Nolen.

"Anak saya dibesarkan di sebuah rumah yang penuh kasih. Anakku diangkat percaya pada Tuhan," ujar ibunya, Joyce Nolen.

Nolen ternyata memiliki catatan kriminal. Penjara Oklahoma mencatat, Nolen pernah dipenjara selama enam tahun, dan menjalani pembebasan bersyarat selama dua tahun. Ia dibebaskan pada Maret 2013 atas kasus menyerang seorang polisi dan mendistribusi kokain.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon