Gaya "Blusukan" Presiden Jokowi di Tainjin

Selasa, 11 November 2014 | 18:16 WIB
B
WP
Penulis: BeritaSatu | Editor: WBP
Presiden Joko Widodo (2 kanan) mengunjungi pelabuhan Tianjin di sela-sela pertemuan KTT APEC 2014 di Beijing, Tiongkok (9/11).
Presiden Joko Widodo (2 kanan) mengunjungi pelabuhan Tianjin di sela-sela pertemuan KTT APEC 2014 di Beijing, Tiongkok (9/11). (AFP/Setpres/Rusman)

Beijing - Tak sekedar bertemu dengan para pemimpin tertinggi Tiongkok, Presiden Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Keqiang, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga melihat langsung apa yang ditawarkan negeri Tirai Bambu itu dengan gaya "blusukan"nya.

Seusai meninggalkan Balai Agung Rakyat, tempat keputusan-keputusan penting Tiongkok diambil, Presiden dengan didampingi Menko Prekonomian Sofyan Djalil dan Menteri Perdagangan Rahmat Gobel berkunjung ke Tianjin, yang terletak di selatan Beijing.

Untuk menuju kota tersebut, Presiden yang juga disertai oleh Ibu Negara Iriana Joko Widodo memilih menggunakan kereta cepat Tianjin-Beijing untuk menempuh perjalanan sekitar 117 kilometer (km), dibandingkan pesawat.

Kereta cepat Beijing - Tianjin adalah salah satu kebanggaan Tiongkok yang menghubungkan dua kota itu dalam waktu tempuh hanya 30 menit.

Kedatangan Presiden beserta rombongan di stasiun sempat memancing rasa ingin tahu para pengguna alat transportasi tersebut yang berkerumun di sekitar jalan yang dilalui Presiden.

Dalam suatu sesi wawancara di dalam kereta, Presiden Jokowi menyebut kereta cepat itu sebagai contoh bahwa pembangunan infrastruktur hendaknya tidak dilakukan terlambat.

"Infrastruktur itu jangan terlambat, apapun, apalagi yang menyangkut hubungan antara kota dengan kota, antar pulau dengan pulau. Konektivitas itu wajib," kata belum lama ini.

Menurut Presiden, jika infrastruktur semakin cepat dibangun, maka akan lebih murah. Sebaiknya, jika semakin lama atau semakin diundur pembangunannya, akan semakin mahal dan manfaatnya hilang.

Jokowi memberikan contoh pembangunan Mass Rapid Transportation (MRT) yang akan jauh lebih murah apabila dibangun 20 tahun atau 25 tahun lalu khususnya dalam hal pembebasan lahan dan urusan nonteknis lainnya.

"Ini ada keputusan politik. kalau sudah diputuskan ya memang harus segera dikerjakan, jangan menunda-nunda apa yang namanya pembangunan infrastruktur," katanya.

Namun saat ditanya apakah pemerintahannya berniat membangun kereta api cepat itu, Presiden mengatakan belum dapat menyampaikan hal itu karena belum konkrit.

Di Tianjin, Wali Kota Tianjin Huang Xingguo secara khusus menyambut Presiden dan Ibu Iriana. Ia menyampaikan kebahagiannya karena Presiden Jokowi berkenan berkunjung ke kota tersebut.

Xingguo juga menyampaikan komitmennya untuk melaksanakan kesepakatan yang telah disetujui oleh Presiden Jokowi dengan Perdana Menteri Li Keqiang dan Presiden Xi Jinping.

Sementara itu Presiden menyampaikan kekagumannya pada tata kota Tianjin, yang bersih dan indah karena banyak memiliki taman kota. Mengingat musim di Tiongkok mulai memasuki awal musim gugur, beberapa pohon di taman-taman kota tampak mulai menguning.

Kota Tianjin menurut Presiden adalah kota yang tumbuh pesat karena ditunjang industri, pelabuhan, pembangkit tenaga listrik dan infrastruktur, transportasi dan lain-lain. "Saya kira pengalaman-pengalaman seperti inilah yang ingin kita cari dan ingin kita laksanakan di tanah air," katanya.

Pelabuhan

Dengan rombongannya yang relatif kecil, kurang dari 50 orang rombongan inti, termasuk 13 wartawan, Presiden Jokowi terlihat leluasa melakukan peninjauan di kantor pelayanan Pelabuhan Tianjin dan dermaga kontainer.

Ia secara langsung menanyakan kapasitas pelabuhan dan hitung-hitungan ekonomi operasional bandara tersebut.

"Rencana kita akan mengembangkan 24 pelabuhan dalam lima tahun ini. Oleh sebab itu mengapa kita ke Tianjin, ini adalah pelabuhan besar dan arah pengembangan 50 tahun 100 tahun sudah ada perencanaan," katanya.

Menurut Presiden pada 2015 pemerintah siap membangun empat pelabuhan sehingga kunjungan ke Tianjin sebagai suatu penjajakan dan pembelajaran. "Pertama, kita ingin melihat di lapangan, kedua kalau bisa kerja sama antara badan usaha milik negara (BUMN) dengan BUMN kalau tidak ya swasta dengan swasta," katanya.

Namun tidak menutup kemungkinan pembiayaan dilakukan oleh pemerintah apabila rencana tersebut masih dianggap tidak menarik oleh investor.

Terkait peluang mengadopsi konsep pelabuhan Tianjin, Presiden mengatakan pelabuhan Tianjin memang terhitung efisien namun belum ada pembahasan ke arah itu sekalipun ia mengaku contoh di Tianjin sudah lebih dari cukup, baik dari segi manajemen maupun perencanaan.

Pelabuhan Tianjin juga merupakan pelabuhan terbesar di kawasan utara Tiongkok dan merupakan pintu akses maritim terpenting bagi Beijing. Dengan luas daratan 121 km persegi, pelabuhan Tianjin adalah "man-made port" terbesar di Tiongkok.

Pada tahun 2013 pelabuhan Tianjin menangani kargo sejumlah 500 ton dan kontainer sebanyak 13 juta TEU yang menjadikannya sebagai pelabuhan dengan aktivitas keempat terbesar di dunia dan pelabuhan kontainer kesembilan terbesar di dunia.

Pelabuhan Tianjin menghubungkan Tiongkok dengan lebih dari 600 pelabuhan di 180 negara di dunia.

Pembangkit Listrik Terintegrasi

Selain "blusukan" di pelabuhan Presiden Jokowi juga "blusukan" melihat integrasi antara fasilitas pembangkit listrik, pemurnian air laut, dan pembuatan garam di Tianjin Beijiang Power Plant .

Seperti diketahui, Indonesia sangat membutuhkan tambahan energi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dalam negeri agar mampu bersaing.

"Mereka dalam membangun pelabuhan itu pasti terintegrasi. Pembangkit listrik ada, pelabuhan ada, zona industri menjadi satu. Menjadi efisien, membawa barang dekat, menarik listrik ke industri dekat. inilah yang ingin terus kita pelajari mengapa barang mereka sangat kompetitif bisa sangat murah dan efisien," kata Jokowi.

Kepala Negara melakukan tanya jawab langsung dengan penanggung jawab fasilitas pembangkit listrik tersebut tentang tingkat efisiensi fasilitas itu termasuk dampaknya terhadap lingkungan.

Tianjin Beijiang Power Plant adalah pembangkit listrik bertenaga batu bara dengan kapasitas 2.000 megawatt yang dibuka pada 2009 dan berlokasi di Hangu Subdistrik, Binhai New Area. Pembangkit listrik itu adalah salah satu sumber tenaga bagi Tianjin terutama kawasan Binhai New Area.

Selaras dengan gagasan yang diusungnya dalam kampanyenya, pada kunjungan kerja pertamanya ke luar negeri Presiden Jokowi tampaknya juga langsung menyasar pada upaya-upaya untuk mewujudkan konektivitas antar kota dan kawasan di Indonesia serta mewujudkan ketahanan energi.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon