Panasnya Pleno Golkar, ini Kesaksian Orang Dalam
Selasa, 25 November 2014 | 03:42 WIB
Jakarta – Rapat pleno Partai Golkar Senin (24/11) kemarin berakhir ricuh setelah massa dari Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) memaksa masuk ruangan. Namun terlepas dari itu, jalannya rapat sendiri memang berlangsung panas dan membentuk dua kubu yang bermusuhan.
Menurut Lamhot Sinaga, Ketua Departemen Eksekutif dan Yudikatif DPP Golkar, peserta rapat terpecah dalam dua kelompok antara pengurus yang pro perubahan dan pengurus yang pro Ketua Umum Aburizal Bakrie.
"Kita pengurus yang pro perubahan mempertanyakan keputusan-keputusan yang kita anggap sangat serampangan, yang diambil oleh kelompok Aburizal dengan menghalalkan segala cara," kata Lamhot dalam wawancara dengan Beritasatu TV.
"Inilah yang menjadi keprihatinan kita di dalam rapat tadi sehingga rapat pleno itu sangat panas dan beradu argumentasi. Pak Ical kelihatannya ingin memaksakan kehendak bahwa Munas (musyawarah nasional) dilaksanakan November."
Persoalan ini menjadi bola panas karena berdasarkan Anggaran Dasar, Munas dilaksanakan Oktober 2014, kemudian muncul rekomendasi diundur ke Januari 2015.
"Kalau dilaksanakan November tidak mengacu pada AD/ART dan tidak mengacu pada rekomendasi. Itu sudah kita pertanyakan sejak rapat pimpinan dilaksanakan di Jogja kemarin, dan muncul lagi di rapat pleno sehingga rapat itu sangat panas," kata Lamhot.
Kubu yang pro perubahan juga menganggap gaya kepemimpinan Aburizal makin tidak demokratis dengan dukungan kelompoknya, dan membawa kepentingan pribadi.
"Sejak Agustus lalu, pasca pilpres, kita melihat Pak Ical ini selalu memaksakan kehendak. Tidak memimpin partai yang besar seperti Golkar ini dengan cara-cara baik dan demokratis. Kita juga melihat ini sarat kepentingan, ingin memuluskan supaya Pak Ical kembali terpilih sebagai ketua umum di Munas mendatang dengan cara aklamasi," papar Lamhot.
Cara yang ditempuh kubu Aburizal adalah dengan memobilisasi daerah "meminjam mulut para teman-teman di DPD provinsi untuk melegitimasi niat jahat Pak Ical," tambahnya.
Ketika massa AMPG merangsek masuk ruangan, Aburizal bersembunyi bersama kelompoknya. Kemudian kembali lagi untuk mengatakan rapat pleno ditutup dan diteruskan Selasa (25/11) sore ini karena tidak kondusif, ujarnya.
"Seharusnya ditanyakan ke pengurus, rapat pleno dilanjutkan atau tidak. Tiba-tiba beliau main ketok bahwa pleno sudah ditutup," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




