Menristek Dikti Yakinkan Bahwa Nuklir Lebih Bersih dan Murah
Selasa, 6 Januari 2015 | 16:53 WIB
Jakarta - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Muhammad Nasir punya keinginan menunjukkan bahwa energi nuklir punya manfaat besar. Oleh karena itu Kemristek sedang membangun laboratorium pembangkit energi nuklir di Serpong, Tangerang.
"Tiongkok saat ini menjadi pengimpor terbesar batu bara kita. Konsumsi mereka memang sangat tinggi, tapi sekarang mereka berpikir untuk beralih ke nuklir. Saat ini Tiongkok punya 14 pembangkit dan sedang membangun 25. Vietnam sedang membangun dua, Amerika punya 100 dan sedang membangun dua lagi. Indonesia nol," tuturnya saat berkunjung ke kantor Beritasatu Media Holdings, Selasa (6/1).
"Kenapa kita selalu mempermasalahkan nuklir? Kita itu kalau belum pernah melihat langsung selalu belum yakin, makanya saat ini kami sedang coba membangun laboratorium pembangkit energi nuklir di Serpong. Kita perlu mengedukasi dan menjelaskan ke anak bangsa bahwa nuklir itu aman," Nasir menambahkan.
Nasir menjelaskan, energi nuklir sebetulnya lebih bersih dan murah dari batu bara. Batu bara menghasilkan listrik seharga US$12 sen per kWh, lalu nuklir 18 sen per kWh. Tapi kalau dihitung dengan biaya lingkungan (risiko kerusakan alam akibat polusi) harga listrik batu bara ada di angka 20 sampai 32 sen per kWh, sedangkan untuk nuklir angka tadi sudah termasuk biaya lingkungan.
Pria kelahiran Ngawi paham bahwa penolakan masyarakat terhadap energi nuklir masih tinggi. Umumnya masyarakat selalu khawatir tragedi Chernobyl (Ukraina) dan Fukushima (Jepang) terjadi di Indonesia. Nasir menjelaskan, jika terealisasi, Indonesia akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) generasi empat, sedangkan yang ada di Fukushima adalah generasi dua. Dan lagi ia mengatakan peneliti Badan Teknologi Nuklir Nasional berani menjamin keamanannya.
Indonesia, dijelaskan Nasir, memiliki beberapa tempat yang bisa dijadikan lokasi pembangunan PLTN. Tempat-tempat itu terletak di pesisir timur Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, dan Jawa bagian utara. Ketiga tempat itu terbilang relatif aman dari gempa.
Wacana membangun PLTN di tempat itu pernah ada, salah satunya di semenanjung Muria, Jepara, Jawa Tengah. Namun penolakan masyarakat setempat tinggi. Bahkan beberapa minggu lalu muncul akun Twitter @TolakPLTN yang mengajak masyarakat menolak PLTN, salah satunya dengan rima "Di Sini Kota Ukir Bukan Kota Nuklir!".
Nasir mengatakan, di Bangka Belitung angka penolakannya cenderung lebih rendah.
"Masyarakat Bangka Belitung siap membangun pembangkit energi nuklir, yang menerima sekitar 70 persen. Bayangan saya, kalau ada itu (PLTN) kereta Jakarta-Surabaya akan pakai listrik dan cuma butuh waktu empat jam," tukasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




