Buntut Tewasnya Sandera, Surat Kabar Tiongkok Persalahkan Abe
Senin, 26 Januari 2015 | 23:07 WIB
Beijing – Tajuk utama di media milik pemerintah Tiongkok, Global Times, Senin (26/1), menyebutkan kematian seorang sandera di tangan kelompok ISIS akibat kesalahan Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe. ISIS mengatakan pada Minggu (24/1) bahwa mereka sudah membunuh Haruna Yukawa, salah satu dari dua sandra berkewarganegaraan Jepang yang ditahan. Pembunuhan dengan cara memenggal kepala korban tersebut jelas-jelas mendapat kecaman dari seluruh pemimpin dunia.
Namun Global Times, yang berafiliasi dengan corong Partai Komunis People's Daily, menulis dalam sebuah tajuk bahwa dukungan pemimpin Jepang kepada AS telah menyeret Tokyo ke dalam konflik. Meski begitu, negara-negara Asia Timur tidak seharusnya menjadi target utama dari ISIS atau pun terorisme global.
"Pembunuhan terhadap sandera Jepang ini kurang lebih merupakan harga yang harus diayar Jepang atas dukungannya terhadap Washington," demikian menurut tajuk surat kabar dengan judul halaman depang "Strategi Abe lebih jelas setelah krisis penyanderaan" dan judul itu mengacu pada PM Jepang yang namanya disebut hingga lima kali.
Abe pun berusaha memanfaatkan krisis penyanderaan ini untuk mencabut konstitusi pasifik Jepang, yang pertama kali diberlakukan oleh AS setelah Perang Dunia II.
Beijing dan Tokyo sudah berselisih sejak lama atas sengketa teritorial di Laut Cina Timur. Meski begitu, negara terbesar kedua dan ketiga di dunia ini memiliki hubungan bisnis yang sangat dekat kendati hubungan politik mereka diwarnai oleh konflik.
Sedangkan kementerian luar negeri Tiongkok lebih bisa menahan diri ketimbang pemberitaan di surat kabar, seiring dengan juru bicara Hua Chunying yang mengatakan kepada wartawan di Beijing untuk menentang segala bentuk terorisme dan tindakan ekstermis yang menargetkan pada warga sipil yang tidak bersalah.
Abe sendiri menyebut pembunuhan terhadap Yukawa sebagai tindakan yang keterlaluan dan tak termaafkan serta segera meminta pembebasan terhadap sandera lainnya, seorang jurnalis lepas Kenji Goto.
ISIS awalnya menuntut kepada pemerintah Jepang untuk membayar uang tebusan US$200 juta dalam waktu 72 jam sejak diumumkan pada Selasa (20/1). Namun Abe berjanji tidak akan pernah menyerah pada terorisme. Sementara itu ISIS mengatakan sudah membunuh salah satu dari dua sandera. Klaim tersebut disampaikan pada Minggu atau terjadi sehari setelah tayangan video yang mengumumkan pembunuhan kontraktor keamanan Yukawa oleh kelompok jihad. Kelompok ini sebelumya telah memenggal kepala lima sandera Barat sejak Agustus tahun lalu.
ISIS pun berusaha untuk menekan Jepang seraya mengatakan nasib dari sandera lainnya, Goto, tergantung pada pelepasan pembom wanita yang tadinya berencana meledakkan Irak. Kini sang wanita menanti hukuman mati di Yordania. "ISIS sudah melakukan ancamannya. Mereka membunuh sandera Jepang Haruna Yukawa setela batas waktu pemberian uang tebusan yang diberikan sudah berakhir," ungkap kelompok jihad di radio Al Bayan.
Kelompok ektrim ini menambahkan sandera kedua menyerukan pada kerabatnya untuk menekan pemerintah (Jepang) supaya membebaskan Sajida al-Rishawi, yang tengah ditahan dalam penjara oleh para penindas di Yordania, untuk ditukar dengan pembebasan dirinya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




