Akhir Pekan, Warga Jakut Pilih Berolah Raga

Minggu, 22 Maret 2015 | 11:54 WIB
CF
B
Penulis: Carlos Roy Fajarta | Editor: B1
Taman Pintar Pulogadung, Jakarta, Sabtu, 14 Maret 2015.
Taman Pintar Pulogadung, Jakarta, Sabtu, 14 Maret 2015. (Lenny Tristia Tambun)

Jakarta -‎ Setelah lima hari berturut-turut disibukkan dengan rutinitas pekerjaan dan stres karena kemacetan ibukota, akhir pekan menjadi waktu yang tepat bagi untuk berolah raga. Naik sepeda, jogging, atau sekadar berjalan santai di taman yang ada dekat lingkungan Anda menjadi cara yang patut dipilih.

Seperti Hendi (36), warga G‎ading Residences, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara (Jakut), mengayuh sepeda di Jalan Yos Sudarso. Ia mengaku sudah mengelilingi kawasan jalan utama di Jakut tersebut sejak pukul 06.00 WIB.

"Kami mulai dari bundaran Kelapa Gading, kemudian memutari Jalan Yos Sudarso hingga pos 9, kemudian kembali lagi ke bundaran. Kurang lebih ada 10 kilometer saya mengayuh sedari pagi," ujar Hendi, Jakarta, Minggu (22/3).

Hendi mengaku, bersepeda menjadi favoritny‎a sejak ia masih duduk di bangku kuliah. "Kalau pagi terasa lebih segar. Apalagi hari Minggu seperti ini, tidak ada truk kontainer dan tidak ada kemacetan," lanjutnya.

‎Beda dengan Rusdianto (45), yang lebih menikmati berjalan santai di taman bersama anak dan istrinya. "Kalau saya lebih enjoy olah raga ringan seperti ini. Sayangnya, harus berkendara lumayan jauh terlebih dahulu ke Kelapa Gading," ujar warga Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Koja tersebut.

Taman Joging di Kelapa Gading memiliki fasilitas cukup lengkap. "Sudah ada jogging track, ada pijakan refleksiologi, arena bermain anak, dan alat gymnya juga. Kalau di taman-taman biasa paling hanya melihat pohon saja," kata Rusdi.

Ru‎sdi berharap agar Jakut semakin membenahi diri dengan semakin memperbanyak taman-taman interaksi, seperti di wilayah Kelapa Gading. "Setiap hari lihatnya hanya truk kontainer saja dan debu dari jalan. Pemerintah seharusnya lebih merawat taman yang ada dan menambah fasilitas di setiap kecamatan. Tidak hanya di Kelapa Gading saja," tutupnya.

‎Sejak Februari lalu Jakut mendapat gelar kota terpolusi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan, dari 14 kota lainnya. Dari total luas 154,11 kilometer (km) persegi, ruang terbuka hijau (RTH) yang tersedia baru 5 persen saja.

Jakut lebih didominasi oleh gudang peti kemas, karena aktifitas Pelabuhan Tanjung Priok dan menderita penurunan tanah 7,5 centimeter (cm) hingga 17 cm per tahun.

Pemerintah Kota Jakut sendiri berjanji untuk membenahi dan menambah RTH, dengan menanam lebih banyak pohon dan mengembalikan tata ruang kota sesuai dengan rancangan yang sudah ada di dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW). 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon