GP Ansor-Yayasan Mata Air Gelar Pesantren Kilat
Sabtu, 30 Mei 2015 | 07:33 WIB
Jakarta - GP Ansor melalui Yayasan Mata Air menggelar Pesantren Kilat-Bimbingan Pascaujian Nasional (Sanlat-BPUN) dalam rangka persiapan masuk perguruan tinggi negeri 2015 di 51 kabupaten/kota.
Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid saat menggelar acara video conference dengan peserta Sanlat di 12 kota mengatakan, gagasan menggelar Sanlat BPUN pertama kali lahir pada 2007 di tiga kota, yakni Kudus, Demak, dan Jepara.
"Dulu basisnya dapil saya sebagai anggota DPR. Dengan program utama pendampingan setelah UN (ujian nasional) di Ponpes. Kemudian sejak jadi Ketua Umum GP Ansor, kegiatan ini dilakukan setiap tahun dan dilaksanakan di 51 kota," ujar Nusron di gedung GP Ansor, Jakarta, Jumat (29/5) malam.
Peserta Sanlat yang melakukan video conference itu yakni dari Surabaya, Jombang, Malang, Ngawi, Kudus, Semarang, Karanganyar, Yogyakarta, Cirebon, Bandung, Serang, dan Pontianak.
Hadir pula dalam acara tersebut Menristek Dikti M Nasir dan Mendikbud Anies Baswedan. Sanlat tersebut, kata Nusron, digelar selama sebulan sejak April lalu dengan tema "Education for Better Future".
Nusrn mengingatkan pentingnya pendidikan bagi masyarakat Indonesia. "Sebab kemiskinan dan ketimpangan ekonomi hanya bisa diatasi dengan membuka akses ekonomi dan pendidikan seluas luasnya kepada masyarakat," ujarnya.
Sementara itu, Menristek Dikti M Nasir mengatakan, semua calon mahasiswa harus punya keyakinan untuk bisa meraih cita-cita yang diimpikan. Nasir menyontohkan pengalamannya sendiri yang tidak pernah membayangkan bakal jadi menteri.
"Saya ini santri salafi belajar agama saja. Saya hanya ikut ujian persamaan di pondok pesantren. Saya hanya bayak berdoa. Kemudian, karena Allah menghendaki saya bisa melanjutkan ke perguruan tinggi," kata Nasir.
Sedangkan Mendikbud Anies Baswedan meminta agar para calon mahasiswa tidak melupakan kesehatan saat ujian masuk perguruan tinggi negeri. Sebab, sekeras apa pun belajar, tidak akan bisa sukses kalau pas saat ujian tidak fit dan sakit.
"Kemudian jangan lupa juga untuk memikirkan masa depan. Bagaimana 50 tahun ke depan. Sebab, pendidikan saat ini diarahkan untuk hasil masa depan yang jauh lebih baik," ujar Anies.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




