Terlibat Cekcok, Laki-laki di Jakut Tewas Ditembak Polisi
Sabtu, 4 Juli 2015 | 08:19 WIB
Jakarta - Seorang warga Tanjung Priok, Jakarta Utara (Jakut), Jumat (3/7) malam, tewas dalam perjalanan ke rumah sakit karena ditembak oleh oknum anggota kepolisian yang mengejarnya. Laki-laki yang menjadi korban penembakan tersebut, Jufri Pasaribu (45) atau lebih dikenal dengan nama Jamal oleh warga sekitar.
Ia tewas di lokasi kejadian, tepatnya di bawah kolong Tol Wiyoto Wiyono, Jalan Jati VIII, RT08/RW09, Kelurahan Sungai Bambu, Kecamatan Tanjung Priok, karena kehilangan banyak darah.
Mulanya, Jamal terlibat adu mulut dengan warga lainnya, Suprapto karena suatu perselisihan, sehingga keduanya hampir terlibat cekcok, namun dipisahkan oleh warga yang melihat aksi tersebut. Jamal, yang masih belum puas dengan hal tersebut mendatangi rumah Suprapto dan berbuat onar dengan berteriak dan merusak beberapa perabotan rumah tangga.
Menurut salah satu saksi mata, Bontot (28), kejadian bermula pada Jumat (3/7) malam sekitar Pukul 21.00 WIB, saat korban, yang dalam kondisi mabuk berat mendatangi rumah Suprapto, yang berada persis di depan rumahnya.
"Saat itu, saya sedang memperbaiki sepeda motor di teras rumah. Nggak tahunya, saya dengar ribut-ribut dari depan. Rupanya si Jamal lagi ngamuk," kata Bontot, di Mapolres Metro Jakut usai diminta kesaksiannya oleh polisi, Sabtu (4/7) dini hari.
Meski tidak terlalu mengetahui rinci terkait duduk perkara yang menyebabkan Jamal marah-marah dan mendatangi rumah Suprapto, namun Bontot melihat Jamal masuk ke pagar dan berteriak-teriak.
"Rupanya, saat itu ada dua orang polisi yang datang dan hendak menangkap Jamal. Sepertinya, keluarga Suprapto yang ketakutan langsung mengadu ke polisi," lanjut Bontot.
Melihat kehadiran polisi, Jamal memilih kabur dan menghindar ke arah kolong tol yang minim penerangan.
"Saya dengar, polisi meminta Jamal untuk menyerahkan diri, namun Jamal malah lari tambah kencang. Setelah sekali tembakan peringatan, polisi mengeluarkan tembakan kedua dan mengenai Jamal," katanya.
Menurut Bontot, Jamal, yang dikenal sebagai salah satu ketua organisasi masyarakat itu sering mabuk-mabukan dan memancing keributan saat dalam kondisi mabuk.
Sementara itu, WT (28), adik Suprapto yang melihat langsung keributan di rumahnya mengaku, mendengar ancaman laki-laki mabuk untuk menghabisi nyawa kakaknya.
Melihat tingkah Jamal yang semakin brutal, WT langsung menghubungi Polsek Tanjung Priok, agar bisa menghentikan perbuatan Jamal.
"Setelah polisi datang, dia kabur. Saya nggak lihat langsung, tapi saya mendengar suara tembakan pistol sebanyak dua kali," kata WT.
Jamal, yang tewas terkena tembakan polisi, langsung dibawa ke Rumah Sakit Sukmul, namun karena kondisinya semakin parah, setelah menghembuskan nafas terakhir, jenazahnya dibawa ke RS Polri Kramat Jati.
Menanggapi kasus tersebut, Kepala Polres Metro Jakut, Kombes Pol Susetio Cahyadi, mengatakan, anggotanya menembak Jamal, karena melarikan diri, meski polisi sudah melakukan upaya persuasif, agar yang bersangkutan menyerahkan diri.
"Penembakan sudah dilakukan sesuai prosedur, namun kita akan selidiki apakah tahapan penembakan sudah dilakukan dengan benar. Itu kita masih akan kembangkan," kata Susetio.
Susetio mengungkapkan bahwa pelaku dua kali tercatat dalam laporan yang dibuat oleh masyarakat sekitar di Polsek Tanjung Priok.
Sementara itu, keluarga Jamal yang tidak terima dengan aksi penembakan oleh anggota kepolisian, mengaku akan mengadukan kasus tersebut ke jalur hukum Sabtu (4/7) ini.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




