Insiden di Aceh Singkil, ISKA: Dunia "Melihat" Aceh Kembali
Kamis, 15 Oktober 2015 | 01:43 WIB
Jakarta - Dunia "melihat" ke Aceh kembali dengan munculnya tindakan intoleransi penyerangan gereja-gereja di Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh. Peristiwa ini mencuatkan keprihatinan yang amat mendalam dalam hidup bermasyarakat dan berbangsa. Pascatsunami 2014, Aceh dibangun dalam semangat toleransi, pluralisme, dan kemanusiaan.
Oleh karenanya, Aceh bukan milik masyarakat Aceh saja, tetapi Aceh milik Indonesia dan juga dunia. Sehingga kasus kekerasan atas nama agama yang terjadi di Aceh Singkil mencoreng semangat kerukunan dan perdamaian yang telah tumbuh dalam masyarakat.
Demikian ditegaskan oleh Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) melalui rilisnya kepada Beritasatu.com pada Rabu (14/10) terkait dengan kasus Aceh Singkil, Aceh.
"Seperti yang telah ketahui bersama pada hari Selasa (13/10), telah terjadi penyerangan oleh massa intoleransi ke gereja-gereja di Kabupaten Singkil, Aceh. Peristiwa ini mengakibatkan terjadinya korban meninggal dan luka sesama anak bangsa serta pengungsian masyarakat akibat situasi keamanan yang tidak menentu," ujar Ketua Umum Presidium ISKA Muliawan Margadana.
Muliawan mengaku semua percaya bahwa hak beragama, berkeyakinan, dan mengaktualisasikan keimanan dalam beribadah adalah hak setiap warga negara yang dijamin oleh Undang-undang Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Masyarakat Aceh pascatsunami 2004, katanya, adalah masyarakat cinta damai yang telah dibangun kembali dengan semangat toleransi, pluralisme, dan solidaritas yang menghargai dan menjunjung tinggi Kemanusiaan.
"Semangat Aceh bukan hanya milik masyarakat Aceh saja, tetapi juga milik masyarakat Indonesia dan dunia. Maka kekerasan atas nama agama telah mencoreng semangat kerukunan dan perdamaian yang telah tumbuh di Bumi Rencong," tandasnya.
Lebih lanjut, Muliawan mengatakan, penyerangan terhadap rumah ibadat sejatinya merupakan penyerangan terhadap logika dan keyakinan kemanusiaan yang menyadari kelemahannya sebagai makhluk ciptaan Allah yang Maha Esa. Karena pada kenyataannya di rumah-rumah ibadah itulah -apa pun agamanya- Allah Yang Maha Esa ditinggikan dalam berbagai cara dan keyakinan iman.
"Kami meminta pemerintah dan seluruh jajarannya, khususnya Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil dan Pemprov Aceh untuk hadir bertindak tegas, cepat, dan tepat, karena jelas peristiwa yang terjadi ini bertentangan dengan Pancasila dan UUD RI 1945. Dan mengantisipasinya kemungkinan yang bisa mengakibatkan peristiwa Singkil berubah menjadi konflik yang lebih luas," ungkapnya.
Sementara Sekretaris Jenderal ISKA Johanes Joko meyakini bahwa Pancasila sebagai roh dan inspirasi dalam hidup bersama sebagai bangsa Indonesia. Untuk itu, katanya, ISKA mengajak seluruh elemen anak bangsa dan jaringan lintas iman yang masih percaya akan Pancasila untuk terus menumbuhkan dan membangun solidaritas tanpa sekat.
"Kami menginstruksikan pada seluruh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) ISKA di seluruh Indonesia untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi akibat dari peristiwa ini dengan membangun komunikasi dan kerja sama bersama unsur masyarakat, khususnya yang menghargai toleransi dan keberagaman," imbuh Johanes.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




