Sopir Metromini Lakukan Aksi Mogok di Pondok Kopi
Senin, 21 Desember 2015 | 10:03 WIB
Jakarta - Aksi mogok sopir bus metromini hari ini kembali berlanjut. Para sopir metromini mogok sebagai bentuk protes pada Dinas Perhubungan DKI yang mengandangkan metromini tak laik jalan.
Sepanjang Jalan Raya Bekasi menuju arah Pulogebang yang biasanya dipenuhi metromini lengang. Belasan metromini terlihat tak beroperasi dan hanya parkir di bawah flyover Pondok Kopi, Jakarta Timur, tepatnya di dekat rel kereta api Stasiun Klender. Metromini tersebut berjajar rapi dan pintunya tertutup rapat. Sejumlah sopir metromini hanya duduk-duduk tak jauh dari busnya.
Sopir metromini jurusan Pondok Kopi-Senen, Girsang (62), mengaku sudah sepekan terakhir tak beroperasi. Ia terpaksa ikutan mogok lantaran rekannya sesama sopir metromini juga tak beroperasi. "Teman-teman mogok ya ikutan mogok juga. Takutnya kalau tetap jalan nanti bus kita dilempar pakai batu," ujar Girsang di bawah flyover Pondok Kopi, Jakarta Timur, Senin (21/12).
Girsang mengeluhkan tak adanya pemasukan sejak ia melakukan aksi mogok. Pria yang sudah 20 tahun menjadi sopir metromini itu, mengaku butuh uang menjelang perayaan natal. "Udah seminggu ini enggak ada pemasukan. Kebetulan saya merayakan natal, butuh uang kan untuk belanja, belum lagi anak-anak saya ada lima perlu biaya semua," tuturnya. Jika beroperasi normal, lanjutnya, dalam sehari Girsang bisa memperoleh Rp 600 ribu hingga Rp 700 ribu. Jumlah itu nanti akan dibagi lagi untuk pengelola metromini dan separuhnya dibagi dua untuk dia dan kernet.
Menurutnya, di Jakarta Timur saat ini ada sekitar 80 metromini yang tidak beroperasi. Jumlah itu termasuk sejumlah metromini yang telah dikandangkan Dishub DKI di Terminal Barang Pulogebang. Ia mengaku diminta rekannya untuk tidak beroperasi sampai hari ini. "Katanya nanti pengelola metromini mau ketemu dulu dengan pihak Dishub. Kita tunggu keputusan saja hari ini bagaimana," ucapnya.
Disinggung soal metromini yang tak laik jalan, Girsang mengaku rutin melakukan uji KIR setiap enam bulan sekali. Kondisi ban, rem, lampu, maupun bodi metromini yang dikendarai pun, dinilainya masih laik jalan. Kendati demikian ia tak membantah usia metromini yang ada di jalanan umumnya memang lebih dari 10 tahun. Bahkan metromini yang paling baru pun, menurutnya, adalah keluaran tahun 2001.
"Sekarang coba cari metromini yang di bawah 10 tahun, ya enggak ada. Kalau ketentuan Dishub mengandangkan metromini di atas 10 tahun ya habis semua metromini. Apalagi Pak Ahok (gubernur) bilang (metromini) buang ke laut saja, enak banget dia ngomong," urainya.
Girsang pun tak setuju jika sopir metromini seluruhnya dibilang ugal-ugalan. Ia justru tak mendukung sopir metromini yang mengendarai asal-asalan, bahkan hingga menyebabkan kecelakaan seperti pada metromini yang tertabrak kereta di Jakarta Barat beberapa waktu lalu. "Kalau memang enggak ada yang lewat trayek itu salah, bikin malu, kita juga enggak dukung. Kita di sini mau ugal-ugalan bagaimana, jalannya saja sempit, macet," katanya.
Ia pun berharap agar metromini diperbolehkan beroperasi kembali. Menurut Girsang, jika memang ada kondisi fisik metromini yang kurang bisa diperbaiki dulu. "Kita pengennya diperbolehkan lagi beroperasi, jangan cari kesalahanlah. Metromini kita memang jeblok semua, tapi yang bijaklah membuat aturan, jangan sampai mematikan rezeki kita," tandasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




