Mengenal Lebih Dekat Bank Sampah Rajawati
Senin, 28 Desember 2015 | 20:32 WIB
Jakarta - Udara segar sangat terasa ketika melewati Kampung Zeni AD Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan. Pepohonan hijau rindang memenuhi sepanjang kampung yang berdekatan dengan stasiun kereta api Duren Kalibata itu. Bisa dibilang udara Jakarta yang biasanya sesak dengan polusi sama sekali tidak terasa di kampung ini.
Beritasatu.com sempat kesulitan untuk menemukan kampung tersebut. Namun, setelah menemukan masjid besar, akhirnya kampung itu ditemukan juga. Di pintu masuk terdapat sebuah monumen kecil dengan logo PT Astra International Tbk. Masuk ke dalam, tampak taman besar, dengan lapangan basket di tengahnya, yang melingkari kampung.
Pemandangan itu sangat kontras dengan wilayah lain di Jakarta, yang dihiasi gedung-gedung tinggi dan permukiman padat. Di bagian belakang taman itu, ada sebuah fasilitas terpadu masyarakat yang berisi Pelatihan Anak Usia Dini (PAUD), Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), dan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Di depan bangunan itu, terdapat monumen berwarna merah dengan logo Astra International di atasnya dan Satu Indonesia di bawahnya.
Di sebelah kiri fasilitas terpadu masyarakat itu, terlihat bank sampah yang diberi nama sesuai dengan lokasinya, yaitu Rawajati. Awalnya, Berisatu.com berpikir akan mencium bau kecut ketika memasuki area bank sampah itu. Tapi ternyata tidak.
Terlihat sebuah mesin pencacah sampah organik berukuran sedang di bagian depan lokasi bank sampah. Maju ke depan lagi, terdapat sampah anorganik seperti botol, kertas, dan sampah lainnya yang ditumpuk di sudut lokasi. Sedikit lebih dekat dengan ruangan kantor bank sampah, terdapat mesin pencacah sampah plastik yang diberikan Astra untuk menopang kegiatan daur ulang bank sampah di kawasan Rawajati ini.
Karena penasaran, Beritasatu.com memasuki kantor bank sampah itu. Kemudian, seorang pria paruh baya menghampiri. "Silakan masuk Mbak, kita ngobrol di dalam saja," ujar dia sambil membuka pintu ruangan yang berukuran sekitar sekitar 3 x 4 meter tersebut, belum lama ini.
Wahid, begitu nama bapak paruh baya yang kegiatan sehari-harinya mengumpulkan sampah dari satu RW ke RW lainnya itu. Dia bercerita sudah sekitar 14 tahun bank sampah itu berdiri. Dari awalnya sekadar kegiatan sukarela, Wahid yang kini berusia 60 tahun sudah bisa menikmati penghasilan sekitar Rp 2,4 juta per bulan.
Awalnya, kegiatan bank sampah ini hanya dilakukan di satu RW oleh pensiunan TNI. Mereka mengumpulkan botol mineral dan sampah plastik yang ada di RW 03. Sampah yang dikumpulkan oleh pensiunan TNI ini dijual kepada pengumpul sampah yang lebih besar.
Uang hasil dari penjualan sampah ini mereka kumpulkan dalam tabungan yang bernama Tabungan Sampah Keliling (Tasake). "Lalu, ketika uangnya sudah banyak, dipergunakan untuk kegiatan studi banding RW 03 ke Bandung," jelas dia.
Makin lama, kegiatan mengumpulkan bank sampah ini makin meluas ke RW lainnya di Kampung Zeni AD, Rawajati, sehingga akhirnya bank sampah RW 03 sudah menjadi bank sampah tingkat kelurahan.
Dalam proses sampah yang diterima, Wahid menjelaskan, bank sampah Rawajati membaginya menjadi dua bagian, yaitu sampah organik dan anorganik. Dalam mengolah sampah organik, Bank Sampah Rawajati menggunakan mesin pencacah. Setelah itu, sampah tersebut difermentasi dan ditambahkan zat aktivator, sehingga seterusnya bisa dihasilkan kompos.
Menurut Wahid, cukup banyak pesanan yang datang ke Bank Sampah Rawajati untuk pupuk kompos. Kalaupun tidak ada pesanan, mereka menggunakan kompos yang dihasilkan untuk keperluan apotek hidup yang juga tersedia di dalam bank sampah.
Sementara itu, untuk sampah anorganik, mereka mengolahnya menjadi bubur plastik dengan menggunakan mesin pencacah. Selain itu, sampah plastik juga bisa digunakan menjadi kerajinan tangan yang bernilai jual. "Bahkan, ada warga RW 08 yang mengolah sampah plastik hingga bisa diekspor ke Singapura,"ujar dia.
Materi memang menjadi tolak ukur dari setiap kesuksesan dari setiap program. Namun, ada hal yang lebih penting dari itu semua, yaitu kontribusi kepada masyarakat. Ini dirasakan Ibu Ali (50 tahun), yang hidupnya tidak menentu sebelum mengenal Bank Sampah Rawajati.
Sehari-hari, dia seperti orang setengah waras, hilir mudik di sekitar kampung. Praktis, tidak ada kegiatan bermanfaat yang dilakukannya. Kehidupan Ibu Ali berubah setelah bertemu Wahid.
Wahid sedang mengumpulkan sampah ketika bertemu dengannya. Ada rasa tidak tega melihat kehidupan Ibu Ali yang tidak jelas juntrungannya. Dia pun mengajak Ibu Ali untuk bergabung dengannya mengumpulkan sampah dari warga sekitar.
Awalnya, ada keengganan di diri Ibu Ali untuk mengikuti saran Wahid. Namun, setelah melakukan kegiatan mengumpulkan sampah beberapa kali, Ibu Ali tersadar kalau inilah panggilan hidupnya. Sampai saat ini, Ibu Ali tidak hanya menjadi relawan mengumpulkan sampah, namun juga menjadi penabung sampah paling banyak di bank sampah Rawajati.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




