January Effect, Efek Apa?
Minggu, 10 Januari 2016 | 22:29 WIB
Pandangan atau harapan investor bahwa pada Januari selalu akan terjadi perburuan saham oleh para fund manager atau pun institusi-institusi besar, pada akhirnya, bisa menyebabkan kenaikan pasar saham. Benarkah January Effect ini sesuatu yang layak ditunggu oleh para investor, tidak hanya di Indonesia, tetapi di seluruh dunia?
Setidaknya, hari-hari ini, jangan coba-coba menyinggung January Effect ke investor di pasar saham Shanghai dan Shenzhen. Urusannya bisa fatal. Bayangkan, hanya dalam lima hari perdagangan pertama di tahun ini saja, pasar saham di kedua bursa itu sudah dua kali dihentikan perdagangannya sebelum tutup hari, akibat bergugurannya pasar saham hingga mencapai batasan 7%. Bahkan Kamis minggu lalu, pasar dihentikan sementara (suspensi) hanya kurang dari setengah jam setelah pembukaan perdagangan.
Tak Kenal Masa Lalu
Lalu, sebenarnya ada atau tidak January Effect ini? Ataukah ini memang hanya sekadar mitos? Mungkin fakta yang lebih masuk akal adalah kalau di pengujung tahun para investor cenderung untuk menjual portofolionya, entah karena alasan pajak, pembukuan, atau sekadar liburan tanpa terbebani dengan pikiran mengenai gerakan aset sahamnya. Ini dimaksudkan untuk mengawali tahun baru dengan dana segar dan daftar portofolio baru yang lebih segar.
Tetapi berharap adanya rally Januari sama halnya dengan meramal cuaca. Kita menengok ke belakang, ke tahun-tahun sebelumnya, dan berharap segalanya akan terjadi kembali di tahun ini. Seperti halnya cuaca, pasar saham tidak mengenal masa lalu. Segala sesuatu dapat terjadi kapan pun dan di mana pun.
Kembali menengok, kasus pasar saham di dua bursa di Tiongkok tadi sudah menunjukkan hal itu. Ini dipengaruhi melemahnya yuan dan kekhawatiran terjadinya perang mata uang (currency war), ditambah data manufaktur yang memburuk (baca: perlambatan ekonomi), plus segera berakhirnya periode larangan penjualan kepemilikan oleh para pemegang saham di atas 5%. Semua fakta itu sudah lebih dari cukup untuk menyatakan bahwa January Effect hanyalah mitos belaka, minimal di Tiongkok. Toh pada akhirnya data dan fakta yang berbicara, bukan mitos yang berlaku.
Investor tidak bisa dan tidak layak berharap akan 'selalu' ada rally Januari. Mungkin saja di masa lalu terjadi kenaikan di awal tahun, namun hal itu tidak mengindikasikan hal yang bakal terjadi di bulan ini. Tentu saja, investasi tidak dapat diprediksi sesederhana itu. Seperti juga halnya mitos mengenai window dressing, yang seperti kita ketahui bukan sesuatu yang "wajib" dan pasti akan terjadi di penutupan perdagangan hari terakhir bursa di seluruh dunia. Indeks Dow Jones ditutup minus 1%, sedangkan kita masih "beruntung" ditutup plus 0,5%.
Optimisme dan Kerja Keras
Minggu pertama Januari ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) kita mencatatkan penurunan sebesar 1%. Tentu saja ini jauh lebih baik dibanding Tiongkok tadi, atau Dow Jones yang sejauh ini mencatatkan penurunan hingga 5%, atau rata-rata indeks saham negara berkembang yang turun sekitar 6%.
Investor asing boleh saja mencatatkan penjualan bersih sekitar Rp 600 miliar seminggu ini, namun Indonesia masih ditempatkan sebagai The Winner in the Developing World's Wreckage, berdasarkan ranking persentase kenaikan sekurangnya 20 saham pilihan, dengan lebih dari sepertiga saham-saham pilihan tersebut mencatatkan kenaikan di awal tahun ini. Posisi Indonesia di atas BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan) serta negara tetangga Asean kita, Malaysia, Thailand, dan Filipina.
Kita tidak perlu berharap adanya January Effect. Kita tidak membutuhkan January Effect. Yang kita butuhkan adalah optimisme dan kerja keras, sepanjang tahun, seperti yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo pada Senin lalu di pembukaan perdagangan bursa efek tahun 2016.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




