AS – Rusia Dorong Pelaksanaan Perundingan Damai Suriah

Rabu, 20 Januari 2016 | 23:58 WIB
HA
B
Penulis: Happy Amanda Amalia | Editor: B1
Ilustrasi Perang Suriah
Ilustrasi Perang Suriah (Daily Sun)

Zurich – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (Menlu AS) John Kerry dan Menlu Rusia Sergei Lavrov melakukan pertemuan, Rabu (20/1), sebagai upaya untuk menciptakan momentum perundingan damai Suriah yang rencananya dimulai pekan depan.

Perundingan antara rezim Suriah dan oposisi dijadwalkan mulai 25 Januari 2016 di Jenewa. Perundingan ini bertujuan mengakhiri konflik yang dimulai hampir lima tahun lalu dan telah menewaskan lebih dari 260.000 orang.

Namun masih belum ada kata sepakat tentang siapa yang akan mewakili pihak oposisi, yang dibayangi keraguan apakah perundingan yang ditengahi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan sesuai jadwal.

Saat Lavrov ditanya apakah perundingan akan sesuai jadwal, dia menjawab: "Kita akan lihat. Kita akan lihat."

Dia menegaskan bahwa keputusan itu disampaikan Utusan PBB Staffan de Mistura, "Bukan dari kita."

Kerry sendiri tidak beromentar tentang hal itu, pada Rabu. Namun pada Selasa (19/1), juru bicaranya, John Kirby mengakui masih banyak pekerjaan yang harus dipatikan supaya perundungan tetap berjalan.

"Kami tidak menghiraukan faktanya bahwa masih ada perbedaan-perbedaan pendapat, dan ini merupakan proses yang rumit," kata Kirby.

Dia menambahkan masih cukup banyak pekerjaan yang harus dilakukan supaya pertemuan antara rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad dan perwakilan-perwakilan oposisi dapat terjadi.

Sementara itu, pengawas dari Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia melaporkan, Rabu, serangan udara Rusia di Suriah telah menewaskan lebih dari 1.000 warga sipil sejak diluncurkan hampir empat bulan yang lalu.

Serangan yang dimulai 30 September 2015, telah menewaskan 1.015 warga sipil, termasuk lebih dari 200 anak-anak.

Pihak Observatorium yang menggantungkan perolehan data dari sumber-sumber jaringan di lapangan mengatakan serangan itu juga telah menewaskan 893 anggota jihad kelompok Islamis State atau Negara Islam (NI) dan 1.141 militan oposisi lainnya, termasuk para anggota Front Al-Nusra yang berafiliasi dengan Al-Qaeda.

Total jumlah korban mencapai 3.049, angka ini diperoleh dengan bertambahnya 700 kematian dalam tiga pekan saja.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon