Pemerintah Taiwan akan Perbaiki Standar Keselamatan Gedung Pasca Gempa
Jumat, 12 Februari 2016 | 01:31 WIB
Taipei – Para petugas penyelamat masih melanjutkan pekerjaan berat menggali jenazah-jenazah yang masih tertimbun di reruntuhan puing komplek apartemen yang ambruk, saat Taiwan dilanda gempa bumi berkekuatan 6,4 skala Richter.
Di sisi lain, kemarahan masyarakat kian memuncak setelah mengetahui kondisi buruk konstruksi bangunan yang roboh sehingga pemerintah turut mempertanyakan catatan keselamatan bangunan itu.
Komplek apartemen Wei Kuan ini merupakan satu-satunya bangunan bertingkat yang runtuh saat gempa menggoncang kota Tainan selatan, sebelum fajar, Sabtu (6/2). Hingga kabar ini diturunkan sebanyak 61 korban dinyatakan tewas dan sebagian besar korban merupakan penghuni apartemen tersebut.
Diyakini juga masih ada lebih dari 60 warga yang terkubur di antara reruntuhan puing. Kemungkinan besar, peluang untuk menemukan korban selamat sangat tipis.
Jaksa menyebutkan ada kecacatan dalam konstruksi gedung usai menginterogasi pihak pengembang dan dua rekannya atas tuduhan kelalaian profesional yang berakibat pada kematian.
Para kerabat keluarga korban yang kebingungan mengungkapkan keluhannya kepada AFP, bahwa mereka sempat mengadukan adanya retakan-retakan di dinding bangunan. Bahka beredar gambar-gambar dari lokasi bencana yang memperlihatkan penggunaan kaleng-kaleng timah dan busa y untuk mengisi bagian dalam kerangka beton.
Menurut para ahli, penggunaan material-material itu sudah sejak lama dianggap sebagai cara pintas untuk memangkas biaya yang mendera industri konstruksi di Taiwan.
"Karena ada kompetisi maka untuk jangka panjangnya, industri konstruksi lokal belum melakukan pengelolaan dengan baik," kata Chern Jenn Chuan, profesor teknik sipil di National Taiwan University.
Bencana gempa itu pun kian memukul kepercayaan publik. Masyarakat dibuat semakin sakit hati setelah serangkaian bencana lain yang terjadi, mulai dari skandal keamanan pangan hingga ledakan di taman bermain air yang menyebabkan 15 orang tewas.
"Daya saing yang disebut-sebut di Taiwan ternyata semuanya beriorentasi pada biaya, sehingga situasi seperti ini sama sekali tidak mengejutkan," bunyi komentar yang di-posting di situs forum online PTT usai bangunan runtuh."
Pengguna forum PTT lain menambahkan: "Mereka hanya mengumpulkan uang dan hal itu bukan menjadi tanggung jawab mereka lagi".
Jaksa juga menyebutkan, jumlah tulang baja yang ada dalam bagian bangunan yang roboh terlalu sedikit, dan sepertinya para pengembang menggunakan lisensi pinjaman untuk membangun properti.
Menurut kalangan insinyur yang membantu di lokasi penyelamatan, beberapa bagian dinding merobohkan lantai dasar – lokasi pertokoan bertingkat yang menjual elektronik.
"Dalam hal ini memang ada kelemahan dalam pembangunan gedung," bunyi pernyataan pengadilan, Rabu (10/2).
Sementara itu, menurut Profesor Chern, bencana yang menyebabkan bangunan runtuh di seluruh negeri mengarahkan pemerintah pada langkah-langkah keamanan yang lebih baik dan tingkat kesadaran di kalangan pengembang untuk bertanggungjawab.
"Sekarang banyak orang yang memahami pentingnya rasa tanggung jawab," tuturnya kepada AFP, seraya menambahkan bahwa jumlah pelanggaran telah berkurang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




