KTT Kemanusiaan Istanbul
Presiden Erdogan Ajak Dunia Tanggung Krisis Bersama
Selasa, 24 Mei 2016 | 00:35 WIB
Istanbul – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, pada Senin (23/5), bahwa beban dalam menangani krisis yang melanda dunia harus ditanggung bersama-sama. Hal tersebut disampaikan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kemanusiaan di Istanbul, di mana para pemimpin negara dan kelompok-kelompok bantuan juga berupaya menepis rasa skeptis.
KTT Kemanusiaan itu bertujuan menjaga supaya konflik tidak meletus dan memastikan hukuman yang setimpal bagi mereka yang bersalah atas kejahatan kemanusiaan. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) Ban Ki Moon mengatakan acara ini dihadiri lebih dari 60 kepala negara dan pemerintahan serta LSM.
Beberapa selebriti juga terlihat hadir, di antaranya aktor Daniel Craig dan Forest Whitaker. Keduanya mendesak para peserta untuk merebut kesempatan unik ini demi membuat perbedaan bagi dunia yang kian memburuk.
Menurut Ban terdapat sekitar 60 juta pengungsi di seluruh dunia dan sedikitnya 125 juta orang yang membutuhkan bantuan serta perlindungan dalam krisis kemanusiaan terbesar sejak Perang Dunia II. Dia menilai, KTT ini dapat mewakili kesempatan untuk menempa masa depan yang berbeda.
"Mari kita manfaatkan kesempatan ini. Mari kita membuat tanda sebagai agen perubahan," pungkas Ban.
Dia juga memperingatkan tidak mudah untuk mewujudkan tujuan itu karena diperlukan kemauan politik pada skala luar biasa dalam beberapa tahun terakhir.
Bahkan pemeran James Bond, Craig menyampaikan kepada para pemimpin dunia: "KTT ini tentang potensi untuk memulai gerakan kemanusiaan terbesar dalam sejarah kita." Dia juga menentang sikap omong besar tanpa adanya aksi.
Namun, acara tersebut dibayangi oleh aksi boikot dari organisasi kemanusiaan medis Doctors Without Borders (MSF) dan keraguan bahwa kegiatan yang berlangsung dua hari dapat menghasilkan efek nyata.
Di sisi lain, Erdogan sebagai tuan rumah kembali menekankan kontribusi negaranya – yang menampung sekitar tiga juta pengungsi dari konflik Suriah dan Irak. Dia mengeluh negara-negara lain enggan berbagi beban.
"Sistem sekarang ini sudah gagal. Beban hanya dipikul oleh negara-negara tertentu, mulai sekarang setiap orang harus memikul tanggung jawab. Setiap hari kebutuhan meningkat, tapi sumber daya tidak meningkat dengan kecepatan yang sama. Ada kecenderungan menghindari tanggung jawab di kalangan masyaraat nternasional," jelasnya.
Dia menambahkan, Turki sangat memahami kepahitan tersebut. Bahkan negaranya sudah menghabiskan dana US$ 10 miliar atau setara 9 sembilan miliar euro untuk membantu para pengungsi Suriah. Jumlah itu jelas lebih banyak dari bantuan yang diberikan seluruh masyarakat internasional dengan total US$ 450 juta.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




