Koalisi Masyarakat Lintas Agama Tolak Korupsi, Bela KPK
Kamis, 22 Juni 2017 | 15:18 WIB
SEMARANG - Berangkat dari keprihatinan ada pihak-pihak tertentu yang memperlemah disposisi KPK, sejumlah tokoh lintas agama yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Lintas Agama Anti-Korupsi Jawa Tengah melakukan aksi doa bersama menolak korupsi dalam bentuk apa pun serta pelemahan terhadap KPK.
Doa bersama demi menyelamatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), digelar Rabu, (21/6) menjelang buka puasa di Bundaran Air mancur Jl. Pahlawan Semarang.
Ahmad Muqsith dan Abdul Goffar yang memandu jalannya orasi dan doa mempersilakan tokoh-tokoh dari lintas agama melangitkan doa secara bergiliran sesuai agamanya masing-masing mulai dari Katolik (Romo Aloys Budi Purnomo Pr), Islam (Gus Ubaidillah Achmad), Buddha (Wahyudi), Kristen (Surya Samudera), dan Konghucu (Andi Tjiok) untuk sepakat memerangi korupsi.
Dalam kesempatan itu Gus Ubaidillah yang juga dosen UIN Walisongo membacakan puisinya berjudul "Penyamun" diiringi Romo Budi yang adalah Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata dengan alunan saksofon yang melantunkan "Indonesia Pusaka".
Bagi Gus Ubaid, para koruptor itu penyamun yang merampas dan merampok uang negara dan kesejahteraan rakyat. Koruptor itu penyamun berjas berdasi yang penuh kebusukan.
Sementara itu sambil menunjukkan buku "Nota Pastoral KWI 2017" yang berjudul "Mencegah dan Memberantas Korupsi", Romo Budo menyampaikan, koruptor merupakan musuh semua orang dan semua agama. Maka gerakan moral tolak korupsi, bela KPK harus didukung. "Semua harus memberantas korupsi karena merusak peradaban kasih dan membuat rakyat tidak sejahtera dan tidak bermartabat," katanya.
Romo Budi juga menegaskan, koruptor telah mencuri uang rakyat dan membuat negeri semakin hancur. Oleh karena itu mencegah dan memberantas korupsi menjadi tugas kita bersama. Pihaknya menyatakan perang terhadap korupsi dan koruptor.
Dari Buddha, Wahyudi AR Ketua PC Magabudhi Semarang menyatakan korupsi adalah pembunuhan dengan penistaan hak seseorang secara perlahan. "Maka kami menolak upaya-upaya pelemahan terhadap KPK, dengan demikian kita tengah melaksanakan tugas berbangsa. Warga Buddha mendukung pergerakan atau upaya-upaya menguatkan KPK," tandasnya.
Maju Tak Gentar
Dalam aksi itu, para penggiat antikorupsi dan tokoh lintas agama Semarang, Jawa Tengah pun menyatakan sikap. Semua mendukung penuh KPK dalam pemberantasan korupsi dan mengecam segala tindakan yang dimaksudkan untuk melemahkan KPK.
Mereka juga mendesak DPR RI untuk membatalkan dan membubarkan Pansus Hak Angket terhadap KPK, serta mengajak seluruh masyarakat berdoa agar dijauhkan dari tindakan korupsi, kolusi, dan nepotisme yang merusak bangsa dan negara.
Rangkaian doa dan orasi lintas agama antikorupsi ditutup dengan bersama-sama menyanyikan lagu "Maju Tak Gentar"'
SriLA: Srikandi Lintas Agama
Di penghujung acara, saat melihat sejumlah perempuan dari berbagai agama berfoto mengusung backdrop antikorupsi, tiba-tiba Romo Budi yang juga Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan itu mendekati mereka sambil berkata, "Kalian semua adalah SriLA: Srikandi Lintas Agama!"
Lalu, sambil mendekati Setyawan Budy yang menjadi Ketua PelitA (Persaudaraan Lintas Agama), nama komunitas para aktivitas lintas agama yang juga diberikan Romo Budi setahun lalu (2016) dan diamini Gus Ubaid.
Wakil Ketua FKUB Jateng itu berkata, "Sudah ada PelitA, sore ini ditambah SriLA! Khusus untuk para aktivis perempuan!" Wawan mengiyakan dan disetujui pula Yas Yunantyo Adi, sebab ternyata Niken, istrinya tergabung di dalamnya. Mereka pun menolak korupsi dan membela KPK.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




