Kader-kader Golkar Mundur, Partai Mesti Introspeksi
Senin, 7 Mei 2012 | 14:46 WIB
Tindakan drastis untuk mengundurkan diri berlebihan. Mestinya didialogkan dulu.
Partai Golkar diminta mengintrospeksi diri pascapengunduran diri Bupati Mamuju Suhardi Duka yang merupakan Ketua DPD Sulawesi Barat. Apalagi, alasan bupati itu dinilai kurang masuk akal, yakni merasa tidak lagi dibutuhkan di Partai Golkar.
"Kalau itu betul, maka sesuatu yang sangat mengejutkan dan harus diintrospeksi, jadi seluruh pimpinan Golkar dari Pusat dan daerah harus melakukan introspeksi kejadian itu," kata Ketua DPP Partai Golkar Hajriyanto Thohari di Gedung DPR, hari ini.
Sebelum mengundurkan diri, Ketua DPD itu dinilai seharusnya membicarakan terlebih dahulu kepada pengurus organisasi. Masalah dalam partai, menurut Hajriyanto, biasanya dibicarakan.
Sejauh ini, menurut Hajriyanto, tidak ada yang salah dengan mekanisme di partai antara hubungan pengurus pusat dan daerah. "Tindakan drastis untuk mengundurkan diri berlebihkan karena mestinya sebelum mengambil keputusan perlu dibicarakan atau didialogkan," lanjutnya.
Tidak sekali ini kader Golkar mengundurkan diri. Dalam beberapa bulan sudah ada dua kader teras lainnya yang mundur. Antara lain, Jeffry Geovani, anggota DPR yang memilih pindah ke Partai Nasional Demokrat.
Kemudian, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang memilih masuk ke Gerindra setelah partai itu setuju mengusungnya menjadi calon wakil gubernur DKI Jakarta.
Partai Golkar diminta mengintrospeksi diri pascapengunduran diri Bupati Mamuju Suhardi Duka yang merupakan Ketua DPD Sulawesi Barat. Apalagi, alasan bupati itu dinilai kurang masuk akal, yakni merasa tidak lagi dibutuhkan di Partai Golkar.
"Kalau itu betul, maka sesuatu yang sangat mengejutkan dan harus diintrospeksi, jadi seluruh pimpinan Golkar dari Pusat dan daerah harus melakukan introspeksi kejadian itu," kata Ketua DPP Partai Golkar Hajriyanto Thohari di Gedung DPR, hari ini.
Sebelum mengundurkan diri, Ketua DPD itu dinilai seharusnya membicarakan terlebih dahulu kepada pengurus organisasi. Masalah dalam partai, menurut Hajriyanto, biasanya dibicarakan.
Sejauh ini, menurut Hajriyanto, tidak ada yang salah dengan mekanisme di partai antara hubungan pengurus pusat dan daerah. "Tindakan drastis untuk mengundurkan diri berlebihkan karena mestinya sebelum mengambil keputusan perlu dibicarakan atau didialogkan," lanjutnya.
Tidak sekali ini kader Golkar mengundurkan diri. Dalam beberapa bulan sudah ada dua kader teras lainnya yang mundur. Antara lain, Jeffry Geovani, anggota DPR yang memilih pindah ke Partai Nasional Demokrat.
Kemudian, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang memilih masuk ke Gerindra setelah partai itu setuju mengusungnya menjadi calon wakil gubernur DKI Jakarta.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




