Urban Farming Dikembangkan di Kelapa Gading dan Sunter

Senin, 29 Januari 2018 | 11:06 WIB
CF
FB
Penulis: Carlos Roy Fajarta | Editor: FMB
Dua orang siswa sedang menanam sayur pola urban farming di SD Dharma Karya.
Dua orang siswa sedang menanam sayur pola urban farming di SD Dharma Karya. (dokumentasi/dokumentasi)

Jakarta - Konsep pertanian kota atau urban farming kini semakin menjadi tren gaya hidup sehat masyarakat kota besar di tengah polusi yang masih tinggi dan meningkatnya permintaan akan sayuran dan buah segar.

Urban farming adalah konsep bercocok tanam yang memanfaatkan ruang sempit yang tersisa di Ibu Kota. Di kota Jakarta Utara, konsep urban farming dikembangkan di wilayah Kelapa Gading dan Sunter yang kini banyak memiliki hunian vertikal dalam jumlah cukup besar.

Wali Kota Jakarta Utara Husein Murad menyebutkan di wilayahnya pihaknya mendorong gerakan urban farming di daerah padat penduduk dengan area lahan yang terbatas.

"Keterbatasan dan mahalnya lahan yang ada di Ibu Kota tidak menutup potensi masyarakat untuk tetap melaksanakan gerakan penghijauan," ujar Husein, Senin (29/1) di kantor wali kota Jakarta Utara.

Pasalnya selain menghijaukan lingkungan, urban farming memiliki nilai tambah bagi pemiliknya yakni dapat dikonsumsi karena berupa sayuran hijau atau dijual agar produktif.

"Kita akan dukung program penghijauan dengan metode apapun karena itu juga bagian dari gerakan sejuta pohon di Jakarta Utara yang sedang kita galakan," tandasnya.

Koordinator Estate Manajemen Inner City Management, Kadek Biantara menyebutkan untuk di wilayah Jakarta Utara pihaknya melaksanakan gerakan urban farming di Apartemen Gading Nias dan Green Lake Sunter.

"Kami memanfaatkan sisa lahan yang ada misalnya di bagian paling atas apartemen maupun sudut lahan di lingkungan apartemen yang masih memiliki ruang," kata Kadek.

Beberapa jenis tanaman urban farming yang dikembangkan yakni: pokchoy, sawi, selada, melon, tomat, pare, terong, kacang panjang, bayam, kangkung.

"Selain bebas pestisida dan sehat untuk dikonsumsi sendiri, bila dijual juga harganya bisa lebih murah karena ongkos produksinya rendah. Di Green Lake Sunter sudah berjalan setengah tahun sedangkan di Gading Nias sudah empat tahun, kita akan kembangkan di apartemen lainnya," tandasnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon