Thailand
Suu Kyi Berjanji Kepada Pekerja Migran Untuk Berbuat yang Terbaik
Rabu, 30 Mei 2012 | 14:35 WIB
Bekerja di pabrik, kapal ikan dan telah sejak lama termarjinalisasi dan diekploitasi
Ikon demokrasi Aung San Suu Kyi yang saat ini sedang berada di Bangkok, mengatakan kepada kaum migran di Thailand, bahwa dia akan melakukan semua cara untuk membantu mereka.
Ini adalah perhentian pertama dari rangkaian kunjungan Suu Kyi ke luar negeri, setelah sekitar 24 tahun menjadi tahanan politik.
"Saya memberikan satu janji, saya akan mencoba yang terbaik untuk Anda," kata Suu Kyi kepada ratusan orang yang berkumpul di jalanan sempit di provinsi Samut Sakhon, di selatan Bangkok.
Suu Kyi bangga dengan semangat pekerja Myanmar, yang juga dikenal sebagai Burma, karena mereka telah mengalami berbagai kesulitan.
"Mereka semua mengatakan hal yang sama, mereka ingin kembali ke Burma secepat mungkin. Tentu saja itu adalah bagian dari tanggungjawab kami," kata Suu Kyi, saat mengunjungi Mahachai, yang disebutnya seperti berada di Yangon.
Suu Kyi disambut banner bergambar wajahnya dan tulisan dalam bahasa Burma dan Inggris, yang tertulis Free Burma dan We want to go home.
"Saya sangat bahagia dan ingin menangis. Saya merasa kami akan mendapat demokrasi di Myanmar," kata Phyu, yang telah berada sekitar enam tahun di Thailand.
Kunjungan Suu Kyi ke luar negeri menandai perubahan dramatis di Myanmar setelah hampir 50 tahun dikuasai militer. Tahun lalu pemerintahan beralih ke sipil.
Sebagai mantan tahanan militer, Suu Kyi mendapat kursi parlemen dalam pemilihan umum historis pada bulan April.
Dalam kunjungan ke Thailand, Suu Kyi akan bertemu dengan perdana menteri dan menghadiri World Economic Forum on East Asia.
Suu Kyi memutuskan untuk memulai kunjungan ke luar negeri dengan menemui ratusan ribu kaum migran Myanmar yang bekerja di sektor informal dan bergaji rendah di Thailand. Mereka bekerja di pabrik, kapal ikan dan telah sejak lama termarjinalisasi dan diekploitasi.
Angkatan kerja Thailand amat bergantung kepada tenaga kerja asing yang digaji rendah, baik legal maupun yang diselundupkan.
Sekitar 80 persen tenaga kerja terdaftar di Thailand. Namun sebenarnya ada sekitar satu juta tenaga kerja lainnya yang sama sekali tidak terdokumentasikan.
"Sebagian besar pekerja disini ingin pulang, namun mereka tidak mampu. Lagi pula tidak ada pekerjaan di sana dan sangat sulit untuk makan, sulit untuk hidup," kata Aung Htun, 28 tahun, seorang pekerja penggilingan.
Suu Kyi bertemu dengan pekerja migran, mendengarkan ceritera mereka dan berjanji akan mendiskusikan dengan pihak berwenang Thailand.
Ikon demokrasi Aung San Suu Kyi yang saat ini sedang berada di Bangkok, mengatakan kepada kaum migran di Thailand, bahwa dia akan melakukan semua cara untuk membantu mereka.
Ini adalah perhentian pertama dari rangkaian kunjungan Suu Kyi ke luar negeri, setelah sekitar 24 tahun menjadi tahanan politik.
"Saya memberikan satu janji, saya akan mencoba yang terbaik untuk Anda," kata Suu Kyi kepada ratusan orang yang berkumpul di jalanan sempit di provinsi Samut Sakhon, di selatan Bangkok.
Suu Kyi bangga dengan semangat pekerja Myanmar, yang juga dikenal sebagai Burma, karena mereka telah mengalami berbagai kesulitan.
"Mereka semua mengatakan hal yang sama, mereka ingin kembali ke Burma secepat mungkin. Tentu saja itu adalah bagian dari tanggungjawab kami," kata Suu Kyi, saat mengunjungi Mahachai, yang disebutnya seperti berada di Yangon.
Suu Kyi disambut banner bergambar wajahnya dan tulisan dalam bahasa Burma dan Inggris, yang tertulis Free Burma dan We want to go home.
"Saya sangat bahagia dan ingin menangis. Saya merasa kami akan mendapat demokrasi di Myanmar," kata Phyu, yang telah berada sekitar enam tahun di Thailand.
Kunjungan Suu Kyi ke luar negeri menandai perubahan dramatis di Myanmar setelah hampir 50 tahun dikuasai militer. Tahun lalu pemerintahan beralih ke sipil.
Sebagai mantan tahanan militer, Suu Kyi mendapat kursi parlemen dalam pemilihan umum historis pada bulan April.
Dalam kunjungan ke Thailand, Suu Kyi akan bertemu dengan perdana menteri dan menghadiri World Economic Forum on East Asia.
Suu Kyi memutuskan untuk memulai kunjungan ke luar negeri dengan menemui ratusan ribu kaum migran Myanmar yang bekerja di sektor informal dan bergaji rendah di Thailand. Mereka bekerja di pabrik, kapal ikan dan telah sejak lama termarjinalisasi dan diekploitasi.
Angkatan kerja Thailand amat bergantung kepada tenaga kerja asing yang digaji rendah, baik legal maupun yang diselundupkan.
Sekitar 80 persen tenaga kerja terdaftar di Thailand. Namun sebenarnya ada sekitar satu juta tenaga kerja lainnya yang sama sekali tidak terdokumentasikan.
"Sebagian besar pekerja disini ingin pulang, namun mereka tidak mampu. Lagi pula tidak ada pekerjaan di sana dan sangat sulit untuk makan, sulit untuk hidup," kata Aung Htun, 28 tahun, seorang pekerja penggilingan.
Suu Kyi bertemu dengan pekerja migran, mendengarkan ceritera mereka dan berjanji akan mendiskusikan dengan pihak berwenang Thailand.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




