30% Energi Bangsa Habis untuk Bicarakan Perbedaan
Senin, 3 Desember 2018 | 13:04 WIB
Jakarta - Bangsa Indonesia harus mendasarkan diri pada pemikiran kolektif untuk membangun negara. Jangan sampai masyarakat terjebak dalam pemikiran yang menonjolkan perbedaan, termasuk perbedaan identitas sehingga Indonesia semakin jauh tertinggal dari bangsa lain.
"Poinnya itu bagaimana kita mau dengar, bagaimana membuka hati kita, bagaimana kita bisa bekerja sama. Itu yang sangat penting dan di kita, ini kurang," kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Menkomaritim) Luhut Binsar Panjaitan dalam seminar Penguatan Kapasitas Pemimpin Indonesia Session 3 guna menghadapi perubahan era revolusi industri 4.0, bertema "Inovasi untuk Indonesia yang lebih baik" yang digagas Lemhannas, di Jakarta, Senin (3/12).
Menurut Luhut, saat ini sebanyak 30% energi bangsa terkuras habis untuk berbicara dan menonjolkan perbedaan. Jika kondisi ini yang dipertahankan, bangsa Indonesia justru akan semakin sulit mengejar ketinggalan dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
"Kita habis energi kita 30% bicara perbedaan. Kita beda boleh, tapi kan tidak perlu berkelahi. Kenapa kita buang energi kita untuk berkelahi saja. Biarkanlah sekarang energi itu kita gunakan untuk membangun negeri yang kita cintai ini," ucap luhut.
Luhut mengingatkan, saat ini bangsa-bangsa di dunia sudah mengantisipasi perkembangan dan perubahan era revolusi industri 4.0. Namun di sisi lain, Indonesia masih membahas penistaan, baik itu penistaan agama maupun penistaan-penistaan lainnya yang justru menghambat kemampuan Indonesia menghadapi revolusi industri 4.0.
"Kalau kita tidak rubah mindset, kita hanya bicara perbedaan, penistaan ini segala macam, kapan kita mau maju? Kapan negeri ini mau jadi besar? Di mana Indonesia itu? Apa Indonesia mau begini saja? Apa Indonesia hanya bicara perbedaan? Apa Indonesia hanya bicara suka tidak suka? Kita bicara national interest. Sementara kita kita bicara national interest. Kita harus jadi satu," ujarnya.
Dikatakan Luhut, perbedaan yang ada di Indonesia sudah ada jauh-jauh hari sebelum bangsa Indonesia merdeka. Perbedaan seharusnya dapat menjadi kekuatan, bukan malah permusuhan.
"Ada perbedaan itu ya sudah. Perbedaan itu lahir kok. Kita sama kakak kita juga beda. Masak jadi karena itu bermusuhan, kan enggak perlu bermusuhan. Saya pun beda sama yang lain-lain, saya enggak pernah bermusuhan," kata Luhut.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




