Beritasatu TV Laporkan TNI Atas Perampasan Kaset
Jumat, 22 Juni 2012 | 14:43 WIB
"Pukul 15.00 WIB kami akan berangkat ke Dewan Pers."
Beritasatu TV akan melaporkan TNI ke Dewan Pers atas dugaan perampasan dan perusakan kaset milik kontributor Urip Arpan, saat peliputan insiden kecelakaan pesawat Fokker 27 di Komplek Rajawali Jalan Branjangan Halim Perdanakusuma, Kamis (21/6) kemarin.
"Pukul 15.00 WIB kami akan berangkat ke Dewan Pers," kata Kepala Peliputan Beritasatu TV Andi Muhyiddin, Jumat (22/6).
Di temui terpisah, Urip Arpan mengaku terkejut dengan tindakan kekerasan oleh TNI yang didapatkannya. "Ya kejadiannya terjadi sangat cepat. Saya berhasil masuk ke lokasinya jatuhnya Fokker dan langsung mengambil gambar dari jarak sekitar 30 meter dari badan pesawat. Baru sekitar 5 menit mengambil gambar, saya ditarik oleh Provost. Dengan nada keras, provost tersebut berkata, saya ambil kameranya atau kasetnya dikeluarkan," ujar Urip.
"Kemudian saya pergi ke lokasi lain. Dan mengambil gambar dengan menggunakan ponsel. Tak berselang lama, seorang TNI berpangkat Mayor menarik kartu identitas saya dan terjadi perdebatan," paparnya.
Menurutnya, TNI tak hanya merampas kaset miliknya. Dua jurnalis lain, yakni Dhika (Kompas TV) dan Reza (Fotografer Kompas), juga turut menjadi korban.
Berikut Kronologi lengkap kejadian perampasan dan perusakan kaset milik Kontributor Beritasatu TV, Urip Arpan:
Urip Arpan, bersama wartawan lainnya yang hendak meliput kecelakaan pesawat Fokker 27 dilarang masuk oleh penjaga di gebang Kompleks TNI AU Halim Perdanakusuma. Urip Arpan dan wartawan lainnya kemudian menggunakan angkot trans-Halim no.38 untuk dapat masuk ke dalam lokasinya jatuhnya Fokker.
Di dalam kompleks, Urip Arpan bersama wartawan lainnya kemudia berjalan menuju lokasi lewat perumahan warga. Mereka melintasi persawahan hingga mendekat ke badan pesawat.
Urip pun mendapat posisi pengambilan gambar ideal, sekitar 30 meter dari badan pesawat. Namun, belum sampai lima menit mengambil gambar, seorang provost menghampiri dan menarik Urip. Dengan nada keras, provost tersebut berkata "saya ambil kameranya atau kasetnya dikeluarkan,"
Urip terpaksa mengeluarkan kaset. Tanpa ragu, provost tersebut langsung mengambil kaset dan menarik pita kaset hingga putus, lalu membuangnya di sawah.
Meski terkejut, Urip terus melanjutkan pekerjaannya dan pindah ke lokasi lain. Dengan menggunakan ponsel, Urip terus mengambil gambar. Tapi, lagi-lagi seorang anggota TNI AU melarangnya. Kali ini berpangkat Mayor.
Tak hanya melarang, Mayor tersebut juga menarik kartu identitas milik Urip. Lalu terjadi perdebatan sengit di antara keduanya.
Selain Urip, provost juga merampas kaset milik Dhika (Kompas TV) dan menghapus file foto milik Reza (Fotografer Kompas).
Beritasatu TV akan melaporkan TNI ke Dewan Pers atas dugaan perampasan dan perusakan kaset milik kontributor Urip Arpan, saat peliputan insiden kecelakaan pesawat Fokker 27 di Komplek Rajawali Jalan Branjangan Halim Perdanakusuma, Kamis (21/6) kemarin.
"Pukul 15.00 WIB kami akan berangkat ke Dewan Pers," kata Kepala Peliputan Beritasatu TV Andi Muhyiddin, Jumat (22/6).
Di temui terpisah, Urip Arpan mengaku terkejut dengan tindakan kekerasan oleh TNI yang didapatkannya. "Ya kejadiannya terjadi sangat cepat. Saya berhasil masuk ke lokasinya jatuhnya Fokker dan langsung mengambil gambar dari jarak sekitar 30 meter dari badan pesawat. Baru sekitar 5 menit mengambil gambar, saya ditarik oleh Provost. Dengan nada keras, provost tersebut berkata, saya ambil kameranya atau kasetnya dikeluarkan," ujar Urip.
"Kemudian saya pergi ke lokasi lain. Dan mengambil gambar dengan menggunakan ponsel. Tak berselang lama, seorang TNI berpangkat Mayor menarik kartu identitas saya dan terjadi perdebatan," paparnya.
Menurutnya, TNI tak hanya merampas kaset miliknya. Dua jurnalis lain, yakni Dhika (Kompas TV) dan Reza (Fotografer Kompas), juga turut menjadi korban.
Berikut Kronologi lengkap kejadian perampasan dan perusakan kaset milik Kontributor Beritasatu TV, Urip Arpan:
Urip Arpan, bersama wartawan lainnya yang hendak meliput kecelakaan pesawat Fokker 27 dilarang masuk oleh penjaga di gebang Kompleks TNI AU Halim Perdanakusuma. Urip Arpan dan wartawan lainnya kemudian menggunakan angkot trans-Halim no.38 untuk dapat masuk ke dalam lokasinya jatuhnya Fokker.
Di dalam kompleks, Urip Arpan bersama wartawan lainnya kemudia berjalan menuju lokasi lewat perumahan warga. Mereka melintasi persawahan hingga mendekat ke badan pesawat.
Urip pun mendapat posisi pengambilan gambar ideal, sekitar 30 meter dari badan pesawat. Namun, belum sampai lima menit mengambil gambar, seorang provost menghampiri dan menarik Urip. Dengan nada keras, provost tersebut berkata "saya ambil kameranya atau kasetnya dikeluarkan,"
Urip terpaksa mengeluarkan kaset. Tanpa ragu, provost tersebut langsung mengambil kaset dan menarik pita kaset hingga putus, lalu membuangnya di sawah.
Meski terkejut, Urip terus melanjutkan pekerjaannya dan pindah ke lokasi lain. Dengan menggunakan ponsel, Urip terus mengambil gambar. Tapi, lagi-lagi seorang anggota TNI AU melarangnya. Kali ini berpangkat Mayor.
Tak hanya melarang, Mayor tersebut juga menarik kartu identitas milik Urip. Lalu terjadi perdebatan sengit di antara keduanya.
Selain Urip, provost juga merampas kaset milik Dhika (Kompas TV) dan menghapus file foto milik Reza (Fotografer Kompas).
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




