Akademisi Harap Jokowi Pilih Menteri Berdasar Lima Kriteria
Sabtu, 28 September 2019 | 06:47 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Bursa menteri kabinet Jokowi jilid 2 santer terdengar jelang pelantikan pada 10 Oktober nanti. Jokowi diharapkan bisa memiliki menteri yang memiliki kredibilitas dan rekam jejak yang baik. Menurut akademisi, Prof. DR. Dedi Purwana E. S.,M.Bus, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta, Jokowi sudah saatnya memilih calon menteri berdasarkan lima kriteria.
Pertama, profesionalitas, dilihat dari rekam jejak, pengalamananya sesuai bidang kementerian yang akan dijabatnya.
Kedua, mempunyai kapasitas intelektual yang mumpuni dan sesuai dengan adagium lama, the right man on the right job. Ketiga, berintegritas dan bermoral, hal tersebut harus jadi pijakan kuat untuk menjadikan sebagai pejabat publik punya benteng moral yang kuat.
Keempat, akuntalibilitas, sebagai pejabat publik, harus merepresentasikan suara rakyat, akuntabilitas dalam arti bertanggungjawab bukan saja kepada presiden, tetapi juga kepada masyarakat. Kelima, punya kemampuan mengambil kebijakan, biasanya kebijakan publik seringkali terseret oleh kepentingan bangsa, imbas dari keputusannya untuk masyarakat dan harus proporsional.
"Itu harapan akademisi, Jika kelima syarat tersebut terpenuhi, mau dari partai politik atau pun profesional, saya yakin menteri tersebut akan mampu memecahkan dengan baik isu-isu yang saat ini belum selesai," katanya di Jakarta, Jumat (27/9/2019).
Terkait dengan kursi, menteri pertahanan, Dedi Purwana punya penilaian yang lebih spesifik. Menurutnya, menteri pertahanan ke depan harus sosok yang mengerti soal pertahanan.
"Sebaiknya ada kombinasi antara akademisi dan militer. Jika kombinasi tersebut digabungkan, maka akan ideal, intelektual akademis ada, karir militernya ada. Saya yakin kedua kombinasi kemampuan kalau melekat pada satu orang, saya kira cocok untuk duduk di kursi menhan," katanya.
Dedi beralasan bahwa menhan yang demikian itu akan mampu mengkaji dan menganalisis isu-isu pertahanan untuk melindungi NKRI dari ancaman infiltrasi dan keluar negeri juga bisa show of force bahwa perahanan Indonesia tak bisa dipandang sebelah mata.
Tidak terkecuali sosok Letjen TNI (purn) Prof. DR. Syarifuddin Tippe, M.Si yang saat ini menjabat sebagai Guru Besar Manajemen Stratejik Pertahanan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta.
"Awalnya saya ragu dengan kapasitas beliau secara akademisi. Namuna dia bisa beradaptasi dengan dunia akademisi yang egalitarian, dan mampu memotivasi dosen-dosen muda untuk mengejar gelar Guru besar atau profesor. Beliau juga memiliki kemampuan membimbing salah satu peserta didik program doktoral FE UNJ untuk masuk ke jurnal ilmiah bereputasi Q1, secara akademis beliau sudah tunjukkan," katanya.
Secara profil, sambung Dedi Purwana, selama ini banyak guru besar yang tidak mau mengajar di jenjang pendidikan D3 atau S1, namun berbeda dengan Syarifuddin Tippe.
"Justru dia mau mengajar disemua jenjang, alasanya agar ia bisa mengajarkan cinta negara dan bela negara kepada generasi milenial saat itu, agar tidak muda terpapar infiltrasi paham ideologi dari luar yang mengancam kedaulatan NKRI, di sela-sela mengajar beliau sisipkan materi tersebut, inilah inovasi yang beliau lakukan dalam dunia akademis," tambah Dedi Purwana.
Sebagai akademisi, ditambahkan Dedi Purwana, dirinya menginginkan sosok menhan yang punya gabungan kompetensi intelektualnya seperti Juwono Sudarsono dan punya karier militer seperti Ryamizard Ryacudu.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




