Presiden Jokowi Minta Belanja Pertahanan Pacu Industri Strategis

Kamis, 31 Oktober 2019 | 22:28 WIB
CP
AO
Penulis: Carlos KY Paath | Editor: AO
Kapal Angkut Tank KRI Teluk Bintuni 520, banyak menyerap komponen dalam negeri.
Kapal Angkut Tank KRI Teluk Bintuni 520, banyak menyerap komponen dalam negeri. (Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com – Belanja pemerintah di bidang pertahanan perlu dimanfaatkan secara optimal. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginginkan agar industri-industri strategis pertahanan dapat dipacu dengan maksimal dengan menggunakan belanja pertahanan tersebut.

"Di sektor pertahanan, kita harus betul-betul memanfaatkan belanja di bidang pertahanan untuk terutama memacu industri-industri strategis dalam negeri dan juga untuk memenuhi minimum esential force yang sudah kita targetkan," kata Jokowi saat memimpin rapat terbatas terkait penyampaian program dan kegiatan di bidang politik, hukum dan keamanan di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (31/10/2019).

"Sedapat mungkin jangan sampai kita impor semuanya," ucap Jokowi. Menurut Presiden, anggaran pertahanan harus dimanfaatkan dalam rangka pengembangan industri strategis dari hulu sampai ke hilir.

"Kerja sama dengan BUMN dan swasta terus dilakukan, bahkan kita ingin agar produk-produk yang ada itu bisa kita ekspor," harap Jokowi.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto belum banyak bicara terkait pengembangan industri pertahanan. "Kita masih dalam taraf, katakanlah belanja masalah, inventarisasi masalah," ujar Prabowo.

Prabowo pun mengatakan, dirinya masih mengumpulkan data bersama wakil menteri pertahanan. "Kami kumpulkan, sehingga nanti langkah-langkah dan kebijakan-kebijakan kita ini tepat. Saya kira itu. Berilah waktu beberap saat. Kita ini dalam rangka mengkaji dulu, baru berapa hari ini (bekerja)," ujarnya.

Hal senada disampaikan Wakil Menhan Wahyu Sakti Trenggono. Menurut Wahyu, Kementerian Pertahanan (Kemhan) masih melakukan pemetaan terkait industri strategis, termasuk rencana mengurangi impor sebagaimana arahan Presiden Jokowi.

"Tetapi, sebagai negara besar, saya setuju dengan jalan Pak Presiden bahwa industri dalam negeri sangat penting. Kompetensi industri dalam negeri juga banyak, bahwa ada teknologi tinggi yang belum dikuasai, tidk apa-apa. Tetapi, dalam prosesnya kita harus belajar," kata Wahyu.

Wahyu menyatakan, perang masa depan bukan hanya menyangkut persenjataan. Pertahanan siber dan biologi pangan justru yang harus diperkuat, karena kepentingan asing di Indonesia berupa penguasaan ekonomi besar sekali.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon