Sekolah Ambruk, Polisi Bakal Panggil Kepala Dinas Pendidikan dan Kontraktor

Rabu, 6 November 2019 | 12:17 WIB
AS
SL
Penulis: Aries Sudiono | Editor: LES
Bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Gentong di Jalan KH Sepuh, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, Jawa Timur, ambruk saat proses belajar mengajar berlangsung, Selasa (5/11/2019) pagi.
Bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Gentong di Jalan KH Sepuh, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, Jawa Timur, ambruk saat proses belajar mengajar berlangsung, Selasa (5/11/2019) pagi. (Beritasatu TV)

Pasuruan, Beritasatu.com - Polda Jawa Timur (Jatim) mengambil alih kasus ambruknya atap SDN Gentong di Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, Selasa (5/11/2019), yang menyebabkan dua orang meninggal dunia dan 11 siswa lainnya mengalami luka-luka. Dugaan sementara polisi, konstruksi bangunan sekolah tidak sesuai prosedur. Didapati informasi, bagian atas bangunan baru yang ambruk tersebut, gentengnya hanya dilapisi seng.

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera menegaskan, meski mengambil alih kasus tersebut, pihaknya tetap melibatkan Polresta Pasuruan. Ia menambahkan, polisi akan memanggil sejumlah pihak terkait ambruknya bangunan SDN Gentong, mulai dari kontraktor hingga Kepala Dinas Pendidikan Kota Pasuruan.

"Itu pasti (hubungan dengan kontraktor) tetapi tunggu identifikasi. Pemanggilan kepala dinas dan lainnya juga segera," ucapnya, Rabu (6/11/2019).

Sebelumnya, sebanyak dua orang meninggal dunia terdiri dari seorang siswa murid kelas 2 Irza Amaria Ramadani Almira (8) dan guru bernama Sevina Arsy Putri Wijaya (19), serta belasan siswa lainnya mengalami luka-luka akibat ambruknya atap di SDN Gentong, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, Selasa pukul 08.30 WIB. Barung mengungkapkan, gedung sekolah yang ambruk berada di bagian depan terdiri dari empat kelas, yakni kelas 2 A dan B, serta kelas 5 A dan B.

"Hasil identifikasi sementara masih berlangsung antara 14 menjadi korban, 12 luka-luka, dua yang meninggal dunia," tutur Barung.

Data dari pihak BPBD Pasuruan, dari 12 korban terluka, dua korban, Abdul Mukti (8) dan Dina Hilda (10) mengalami patah tulang. Sedangkan 10 korban lainnya, hanya mengalami luka ringan.

Kapolres Pasuruan Kota AKBP Sudaryatno menjelaskan, dua korban meninggal akibat tertimpa material atap dan genteng. "Baik guru maupun siswinya mengalami luka di bagian kepala dan tangannya patah akibat tertimpa material atap dan genting," ujarnya.

Beruntung, saat bangunan kelas 5 A dan B rubuh, para siswa sedang mengikuti pelajaran olahraga di luar ruangan. Kapolres menjelaskan, keberadaan pihak Polda Jatim dikarenakan, kasus bangunan sekolah yang roboh ini terbilang menonjol, dan mendapat atensi khusus.

Sudaryatno menjelaskan, tim Labfor dan Reskim sedang melakukan identifikasi secara ilmiah guna menyingkap penyebab ambruknya atap gedung sekolah tersebut. "Ada dugaan pemasangan konstruksi kerangka atap tidak sesuai ketentuan. Rangkaian antarpipa kurang rapat dan kurang diperhitungkan terkait beban genteng yang harus ditopang dan kondisi cuaca," ujarnya.

Frans Barung menambahkan, keberadaan Polda Jatim adalah perintah Kapolda Irjen Pol Luki Hermawan yang bertujuan, untuk mempercepat proses penanganan, dan menyingkap penyebab kejadian.

Kunjungi Korban
Sementara itu Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mendatangi lokasi sekolah ambruk, dan mengunjungi korban yang menjalani perawatan di RSUD dr Sudarsono, Kota Pasuruan. Ia secara khusus meminta para dokter memberikan layanan kesehatan maksimal kepada korban-korban. Ia juga menyatakan, korban yang dirawat akibat peristiwa itu dibebaskan dari pungutan biaya.

Khofifah juga menyempatkan diri berkunjung ke rumah duka siswa dan guru yang meninggal.

"Yang harus menjadi perhatian serius adalah kita harus memberikan layanan psikososial kepada para korban dan orang tuanya," ujarnya.

Khofifah menambahkan, Pemprov Jatim segera akan menerjunkan tim layanan trauma konseling dari Dinkes Pemprov Jatim. Sementara itu salah satu korban selamat dalam insiden di SDN Gentong itu, Adinda Lailatul (9) menangis histeris di pelukan ibunya setelah peristiwa atap sekolahnya ambruk tersebut. Pelajar kelas tiga SDN Gentong itu masih syok dan terus-terusan menangis. Ibunya yang memeluk juga tampak tak henti-hentinya ikut menangis.

Ketika ditemui Khofifah yang ikut pihatin, Adinda sempat berceritera tentang detik-detik saat atap sekolah ambruk dan menimpa para murid yang sedang belajar. Ia dan teman-temannya mengaku sangat terkejut ketika atap sekolah tempatnya belajar ambruk. Adinda juga melihat salah satu temannya Irza Amaria Ramadani putri sulung pasangan suami-isteri Moch Zubair dan Umul Khoiroh, tewas beserta ibu gurunya, Sevina Arsy Putri Wijaya. "Saya dan teman-teman takut kembali ke sekolah," ujarnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon