Sekian Lama Pandemi Covid-19, Perpsesi Risiko Masyarakat Masih Kurang
Senin, 14 Desember 2020 | 06:59 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Penambahan jumlah kasus konfirmasi positif Covid-19 tiap hari bertambah banyak meskipun berbagai upaya sudah dilakukan pemerintah untuk mengurangi risikonya. Upaya yang dilakukan dinilai belum cukup efektif. Sekian lama pandemi Covid-19 terjadi di Indonesia, tapi persepsi risiko masyarakat masih kurang.
Hal tersebut diungkap epidemiolog Universitas Indonesia, Iwan Ariawan dalam seminar online "Catatan Perjalanan Penanganan Covid-19 di Indonesia" yang diselenggarakan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Sabtu (12/12). Menurut Iwan, pemerintah membuat protokol kesehatan dan mengharapkan masyarakat untuk mematuhinya. Tetapi untuk melaksanakannya, orang harus punya persepsi yang baik. Artinya orang yang melaksanakannya harus punya kesadaran bahwa dia berisiko menularkan atau ditularkan, sehingga mau menerapkan protokol kesehatan.
"Sejumlah survei mengatakan persepsi risiko masyarakat belum baik," kata Iwan.
Dihubungi terpisah, Minggu (13/12/2020), Iwan mengatakan, kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan pernah meningkat, tapi sekarang turun lagi. Selain karena sebagian telah jenuh atau bosan melakukan protokol kesehatan, persepsi risiko masyarakat memang masih kurang. Persepsi ini penting karena orang berperilaku sesuai dengan persepsi dia tentang risikonya. Ketika orang merasa dirinya tidak berisiko tertular atau menularkan, maka sudah pasti protokol kesehatan tidak dilaksanakan karena dia tidak takut dengan Covid-19. Sayangnya orang-orang seperti ini jumlahnya banyak.
Ini terjadi karena menurut Iwan, strategi komunikasi pemerintah mengenai Covid-19 masih kurang. Komunikasi harusnya sesuai masyarakat yang dituju. Tidak cukup hanya sekadar pasang iklan di media masa atau juru bicara Satgas Penanganan Covid bicara di media elektronik. Di sisi lain, ada pejabat yang tidak konsisten menerapkan protokol kesehatan. Ia mencontohkan beberapa kementerian/lembaga saat rapat tidak lagi memakai masker. Ada juga beberapa sudah melakukan rapat offline di luar kota. Ini memberikan pesan tidak konsisten.
Strategi komunikasi yang kurang bagus juga terlihat saat vaksin tiba. Mestinya komunikasi vaksin baru dilakukan setelah vaksin mendapat persetujuan penggunaan dari Badan POM. Tapi yang terjadi saat kedatangan tahap pertama vaksin sejumlah 1,2 juta komunikasi sudah dilakukan, dan banyak orang yang turut bicara. Menurut Iwan, sebaiknya yang terkait dengan teknis medis vaksin diserahkan kepada pakarnya. Tidak perlu banyak pejabat ataupun politisi yang bicara soal vaksin yang akhirnya membingungkan masyarakat. Kalau pun berbicara perlu didampingi ahlinya.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, upaya penanganan Covid-19 semakin mengalami perbaikan. Misalnya kapasitas laboratorium pemeriksaan PCR yang terus meningkat. Pada awal pandemi jumlahnya baru di bawah 50 lab, dan sekarang sudah mencapai 422 laboratorium. Jumlah spesimen yang diperiksa pun semakin banyak. Per hari ini ada 51.048 spesimen yang diperiksa dari 25.347 orang.
Selain itu, pelacakan kontak atau tracing contact pada kasus yang kontak erat dengan pasien positif juga ditingkatkan. Pelacakan kontak merupakan kunci utama untuk memutus rantai penularan Covid-19. Saat ini sebanyak 3.841 relawan personil lacak kontak yang tersebar di 10 provinsi prioritas, yaitu Aceh, Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Bali, dan Papua.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




