Tuan MH Manullang Layak Dijadikan Pahlawan Nasional
Sabtu, 16 Juli 2022 | 12:26 WIB
Asvi Warman Adam mengungkapkan, Tuan Mangaradja Hezekiel (MH) Manullang, lahir di Tarutung 20 Desember 1887 dan meninggal dunia di Jakarta pada 20 April 1979 (dimakamkan di Tarutung, Tapanuli Utara). Dia adalah wartawan kawakan, pendiri sedikitnya lima surat kabar legendaris di Sumatra Utara semasa pemerintahan Hindia Belanda.
Baca Juga: Pemprov Sumut Setuju Tuan MH Manullang Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Surat kabar itu adlaah Binsar Sinondang Batak (BSB) pada 1905, Soara Batak (1919-1922), Persamaan (1924), Pertjatoeran (1926), dan Persatoean (1929).
Diberedel
Kelima koran ini menentang keras ekspansi agraria (perampasan tanah) rakyat untuk dijadikan perkebunan. Hukum Hindia Belanda, perkebunan hanya boleh di lahan menganggur. Tak habis akal, Tuan MH Manullang berkampanye agar jangan ada tanah yang menganggur.
Menurut Phil Ichwan Azhari, kampanye itulah yang membuat membuat Soara Batak diberedel Belanda. Dia juga menentang keras kerja rodi (kerja paksa) dan pajak yang tinggi. Tuan MH Manullang pun dimasukkan ke penjara Cipinang (Batavia).
"Tak kenal takut, sebelum ke Batavia, dia terlebih dahulu mengikuti Kongres Sumatera di Padang," kata Asvi Warman Adam.

Surat Kabar Soara Batak.
Berlayar dari Padang dan tiba di Tanjungpriok, Jakarta, pada Maret 1922, Tuan MH Manullang disambut teman-teman seperjuangan. Ia masuk penjara Cipinang pada 26 Agustus 1922 dengan gagah berani dan diantar para pendukung, di mana Tuan MH Manullang masih sempat berpidato membakar semangat.
"Penjara menjadi ‘universitas’ bagi Tuan MH Manullang, membuatnya kian mantap menapak garis perjuangan," ujar Asvi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




