ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Tuan MH Manullang Layak Dijadikan Pahlawan Nasional

Sabtu, 16 Juli 2022 | 12:26 WIB
AP
AO
Penulis: Asni Ovier Dengen Paluin | Editor: AO
Tuan MH Manullang.
Tuan MH Manullang. (Istimewa)

Pada 1916 dia kembali ke Tanah Batak dan mendirikan sekolah berbahasa Inggris di Balige pada 1917. Pada 1920 dia mendirikan Soara Batak, melawan ekpansi agraria penjajah. Soara Batak diberedel pada 1922 dan Tuan MH dipenjarakan di Cipinang pada 1922-1923. Setelah bebas, dia terus berjuang.

Pun di zaman Kempetai Jepang, Tuan MH Manullang dipenjarakan selama 1 tahun 3 bulan di Tarutung pada 1943. Kemudian, April 1949 dia juga dipenjarakan penjajah NICA (agresi Belanda). Jadi, Tuan MH Manullang sudah merasakan penjara oleh tiga penjajah yang berbeda, Belanda, Jepang, dan NICA.

Perintis Kemerdekaan
Menurut Asvi, perjuangan panjang Tuan MH Manullang sudah diapresiasi pemerintah dengan tiga kali mendapat penghargaan Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu pada 1948, 1958, dan 1967.

"Maka, kita sebagai bangsa yang menghargai jasa pahlawan, sudah selayaknya memberi gelar pahlawan nasional kepada Tuan MH Manullang, level yang sesuai untuknya," ujar Asvi Warman Adam.

ADVERTISEMENT

Baca Juga: Gigih Menentang Ekspansi Agraria, Tuan MH Manullang Pantas Menjadi Pahlawan Nasional

Pada zaman Republik, tepatnya 1 Desember 1946, Tuan MH Manullang diangkat menjadi Kepala Urusan Bangsa Asing (SK Gubernur Sumatra Nomor: 498), dengan gaji R 335. Lalu, dengan SK Gubernur Sumatra Nomor: 47/Bkt/U tertanggal 15 April 1948, Tuan MH Manullang diangkat menjadi Ketua Pekerja Pertjetakan ORIP, ditunjuk menandatangani uang kertas dengan nominal R50, R25, dan R5.

Pada 20 Mei 1948, Tuan MH Manullang memperoleh penghargaan Perintis Kemerdekaan. Sepuluh tahun kemudian, 20 Mei 1958, dia juga memperoleh penghargaan Perintis Kemerdekaan. Melalui SK Menteri Sosial RI tertanggal 2 Oktober 1967, Tuan MH Manullang kembali mendapat penghormatan sebagai Perintis Pergerakan Kebangsaan dan Kemerdekaan Bangsa.

Perjuangan Tuan MH Manullang dibicarakan oleh sedikitnya dua peneliti asing, dalam disertasi mereka yang kemudian menjadi buku. Mereka adalah Lance Castles (buku edisi Inggris1972), dan edisi Indonesia 2001. Kemudian, disertasi Daniel Perret yang dijadikan buku edisi Perancis pada 1995 dan edisi Indonesia 2010.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon