Produksi Mobil Listrik Diramal Tembus 1 Juta Unit di 2035
Rabu, 8 Maret 2023 | 12:44 WIB
Surakarta, Beritasatu.com – Indonesia diprediksi mampu memproduksi 1 juta mobil listrik atau kendaraan listrik (electric vehicle/EV) roda empat pada tahun 2035, yakni saat industri otomotif nasional memasuki usia I abad. Lonjakan produksi yang mencapai sekitar 666 kali dari produksi 2022 yang baru 1.500 unit tersebut didukung evolusi industri kendaraan termasuk motor listrik di Tanah Air yang terus berlangsung dan mengarah ke kendaraan elektrifikasi.
Sumber daya nikel yang melimpah sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik makin memperkuat posisi Indonesia untuk mewujudkan kemandirian ekosistem kendaraan listrik dan menjadi salah satu pemain kunci di rantai pasok EV global. Hanya saja, untuk mencapai target itu, dibutuhkan kolaborasi seluruh stakeholder guna mempercepat terbangunnya industri dan ekosistem baterai, sehingga popularisasi elektrifikasi di Indonesia terus meningkat. Hal itu mengemuka dalam seminar nasional bertajuk 100 Tahun Industri Otomotif Indonesia, Mewujudkan Indonesia Net-Zero Emission (NZE) yang berlangsung di Kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Selasa (7/3/2023).
"Awal 1970-an kita impor mobil untuk mendorong ekonomi, lalu kita substitusi impor dengan produksi lokal pada tahun 1980-an di tahap kedua. Lalu di tahap ketiga kita mulai lokalisasi komponennya pada 1990-an, dan tahap keempat kita mulai ekspor
mobil serta menjadi basis produksi ekspor. Baru tahap berikutnya kita ekspor kendaraan berteknologi tinggi, termasuk mobil elektrifikasi. Dan kita harus bisa memper tahankan posisi yang kuat ini," kata Direktur Hubungan Eksternal PT Toyota
Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam di Solo, Selasa (7/3/2023).
Bob mengungkapkan, sektor otomotif merupakan salah satu industri yang memiliki fondasi kuat dan pionir industrialisasi di Indonesia. Namun di sisi lain, Indonesia memiliki tantangan besar untuk menjadi yang terdepan dalam elektrifikasi otomotif
di kawasan ASEAN, bersaing dengan negara industri otomotif besar lainnya seperti Thailand dan Vietnam.
Dengan memiliki potensi cadangan nikel terbesar di dunia, menurut Bob, Indonesia berpotensi menjadi produsen utama produk-produk barang jadi berbasis nikel, seperti baterai kendaraan elektrifikasi. Artinya, Indonesia memiliki kesempatan
yang besar untuk mengembangkan industri baterai yang menjadi salah satu ekosistem utama dari industri elektrifikasi.
"Toyota sendiri berkomitmen untuk mendukung penciptaan pasar baterai ini melalui pendekatan multipathway strategy di mana Toyota memperkenalkan dan menyediakan beragam teknologi kendaraan elektrifikasi yang menggunakan baterai bagi konsumen di Indonesia, dari hybrid electric vehicle (HEV), plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), battery electric vehicle (BEV), hingga fuel cell electric vehicle (FCEV)," kata Bob.
Akademisi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) Khoirunurrofik mengatakan, produksi mobil listrik di Indonesia ditargetkan mencapai 400.000 unit pada 2025 dan meningkat menjadi 600.000 unit pada 2030, serta menembus 1 juta unit pada 2035.
Sedangkan jumlah stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) ditargetkan sebanyak 6.318 unit serta 17.000 unit stasiun penukaran baterai kendaraan listrik umum (SPBKLU) di 2025 dan meningkat menjadi 31.859 unit SPKLU dan 67.000 unit SPBKLU pada 2030. "Jumlah mobil listrik di Indonesia hingga 2022 sebanyak 2.654 unit dengan SPKLU yang tersedia hingga akhir Agustus 2022 mencapai 346 unit," ujar dia.
Khoirunurrofik mengatakan, pemerintah memegang peran kunci dalam upaya percepatan populasi kendaraan listrik di Indonesia, di antaranya dengan pemberian insentif fiskal baik berupa pembebasan pajak maupun subsidi. Selain itu,
dibutuhkan insentif nonfiskal lainnya seperti pembangunan infrastruktur pendukung yang menjadi bagian pembangunan ekosistem EV.
"Dari survei yang kami lakukan, bagi pasar terbesar yaitu setipe harga mobil Avanza, konsumen memberikan toleran 20% untuk shifting (beralih) dari mobil konvensional ke EV. Selain itu, diperlukan kebijakan yang bisa mengurangi biaya produksi baterai EV karena itu menjadi salah satu kunci kalau ingin mereduksi harga jual mobil listrik," tutur dia.
SVP Corporate Strategy & Business Development PT Indonesia Battery Corporation (IBC) Adhietya Saputra mengatakan, permintaan baterai EV di dalam negeri diperkirakan mencapai 20 giga watt hour (GWh) di 2030, dan naik lagi menjadi 59 GWh pada 2035.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, IBC bersama mitra strategi akan mulai memproduksi pada 2024 dengan kapasitas 10 GWh. Produksi tersebut memenuhi kebutuhan baterai listrik untuk sekitar 100 ribuan mobil listrik dan sekitar 4 juta motor listrik. "Kami melihat ini suatu peluang yang bisa dimanfaatkan Indonesia. Ada dua ekosistem, yakni ekosistem baterai dan ekosistem EV yang harus saling mendukung. Industri kendaraan listrik harus dibentuk sejak awal tanpa menunggu industri baterai EV siap dulu. Sehingga saat produksi baterai dilakukan, sudah ada pasar yang bisa menyerap," tutur dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




