Survei: 96 Persen Pengguna Mobil Listrik Ogah Kembali ke Mobil Bensin
Rabu, 13 Mei 2026 | 11:55 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Mayoritas pemilik mobil listrik atau electric vehicle (EV) ternyata tidak ingin kembali menggunakan mobil berbahan bakar bensin. Alasannya bukan semata-mata karena faktor lingkungan, melainkan biaya penggunaan yang dinilai jauh lebih hemat.
Dikutip dari AutoPro, Rabu (13/5/2026), lembaga riset otomotif JD Power dalam survei tahunan ke-6 terhadap 5.741 pemilik mobil listrik di Amerika Serikat menemukan, sebanyak 96% responden ingin kembali membeli mobil listrik untuk kendaraan berikutnya. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak 2021.
Sementara itu, survei Global EV Alliance terhadap 23.000 pemilik EV di 18 negara menunjukkan 92% responden tetap ingin menggunakan mobil listrik. Hanya 1% yang ingin kembali memakai mobil bensin.
Hasil survei menunjukkan alasan utama konsumen memilih EV bukan lagi soal idealisme lingkungan, tetapi karena biaya operasional kendaraan listrik dianggap lebih murah dibanding mobil bensin.
Survei US Electric Vehicle Experience Ownership Study 2026 dari JD Power dilakukan sepanjang Agustus-Desember 2025 terhadap pemilik mobil model 2025 dan 2026. Penelitian tersebut mengukur 10 aspek pengalaman pengguna, mulai dari jarak tempuh baterai, akurasi estimasi jarak, jaringan pengisian daya publik, biaya kepemilikan, pengalaman berkendara, pengisian daya di rumah, desain, teknologi keselamatan, layanan, hingga kualitas kendaraan.
Direktur riset kendaraan listrik JD Power, Brent Gruber, mengatakan kepuasan pemilik EV tetap meningkat meski insentif pajak kendaraan listrik di AS sudah dihentikan.
“Peningkatan teknologi baterai, infrastruktur pengisian daya, dan performa kendaraan telah mendorong tingkat kepuasan ke level tertinggi dalam sejarah,” ujar Gruber.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi bukti kuat bahwa pengguna yang sudah merasakan pengalaman memakai EV cenderung tidak ingin kembali ke mobil bensin.
Dalam survei tersebut, faktor biaya kepemilikan menjadi pembeda terbesar antara mobil listrik murni dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV). Mobil listrik murni mendapatkan skor kepuasan biaya kepemilikan lebih tinggi hingga lebih dari 100 poin dibanding PHEV, baik di segmen premium maupun mobil massal.
Global EV Alliance juga menemukan mayoritas pengguna membeli EV karena alasan ekonomi, bukan lingkungan.
“Pengguna menyadari sendiri penghematan dari tagihan bensin, biaya servis, dan waktu yang dihabiskan di bengkel,” tulisan laporan tersebut.
PHEV Dinilai Kurang Efisien
Survei JD Power juga menemukan mobil hybrid plug-in atau PHEV mendapat tingkat kepuasan lebih rendah dibanding EV murni maupun mobil bensin biasa dalam aspek biaya kepemilikan.
PHEV dinilai memiliki kelemahan karena menggabungkan dua sistem sekaligus, yakni mesin bensin dan motor listrik. Akibatnya, pemilik tetap harus melakukan perawatan mesin bensin sambil menghadapi risiko penurunan performa baterai seiring usia kendaraan.
Laporan Consumer Reports pada Desember 2025 bahkan menyebut mobil listrik dan PHEV memiliki jumlah masalah rata-rata 80% lebih tinggi dibanding mobil bensin, terutama karena kompleksitas teknologi yang digunakan.
Meski tingkat kepuasan pengguna EV tinggi di AS, hasil berbeda ditemukan di China. Survei JD Power 2026 mencatat mobil listrik baru di China mengalami 231 masalah per 100 kendaraan dalam enam bulan pertama penggunaan. Angka tersebut lebih tinggi dibanding kendaraan baru di AS yang berada di kisaran 180-190 masalah per 100 kendaraan. Sebagian besar masalah pada EV China disebut berasal dari sistem hiburan dan fitur bantuan pengemudi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Mengejutkan! 200.000 Anak Indonesia Terjerat Judi Online
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
1
B-FILES
Mengejutkan! 200.000 Anak Indonesia Terjerat Judi Online




