ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Likuiditas Semakin Ketat, Bank Perlu Cari Solusi Pendanaan

Jumat, 22 November 2013 | 15:06 WIB
TH
B
Penulis: Thomas Ekafitrianus Harefa | Editor: B1
Nasabah melakukan transaksi perbankan di Bank Mandiri.
Nasabah melakukan transaksi perbankan di Bank Mandiri. (INVESTOR DAILY)

Yogyakarta - Perbankan Indonesia saat ini perlu mencermati rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (loan to deposit ratio/LDR), yang per September 2013 telah mencapai 88%. Sebab, tingkat LDR tersebut menandakan likuiditas perbankan semakin ketat, sehingga perlu mencari sumber-sumber pendanaan untuk tetap mendukung pertumbuhan bisnis.

Direktur Finance and Strategy PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Pahala N Mansury mengatakan, berdasarkan data Bank Indonesia (BI), LDR bank umum per September 2013 mencapai 88%. Bank juga harus mencadangkan dana ke giro wajib minimum (GWM) sebesar 8%. Dengan demikian, ekses likuiditas perbankan semakin sedikit. Dalam 1-2 tahun ke depan, menurut Pahala, LDR perbankan ini bakal mencapai 91%.

"Level LDR ditambah dengan GWM tersebut total sekitar 96%, sehingga LDR perbankan saat ini memang tidak banyak. Tahun depan, kami harapkan paling tidak ada penyeimbangan pertumbuhan di kredit dan dana pihak ketiga (DPK) masing-masing sekitar 15-17%, agar tidak terjadi gap," paparnya, dalam kegiatan Mandiri Media Training bertema "Peluang dan Tantangan Industri Perbankan 2014", di Yogyakarta, Jumat (22/11).

Pahala menjelaskan, dengan tren pengetatan likuiditas tersebut, perbankan perlu mencari solusi pendanaan. Hal ini bisa dilakukan misalnya melalui penerbitan obligasi atau sekuritisasi, wholesale funding, atau pendalaman pasar keuangan. Upaya ini perlu dilakukan, agar pertumbuhan kredit perbankan tahun 2014 bisa di kisaran 17-18% atau mencapai 20%. Sebelumnya, BI telah memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan tahun depan di kisaran 15-17%.

ADVERTISEMENT

Menurut Pahala, perlambatan pertumbuhan kredit dan ekonomi memang perlu dilakukan. Sebab menurutnya, dalam empat tahun ini pertumbuhan di Indonesia cenderung abnormal. Perlambatan yang dilakukan adalah agar kondisi pertumbuhan kembali ke normal. Meski demikian, bank menurutnya tetap perlu waspada, menjaga pertumbuhan, serta memang perlu untuk mengalami perlambatan pertumbuhan pada 2013-2014.

"Istilahnya, kembali ke situasi normal. Sebab, pada 2010-2012, kita berada di situasi abnormal, akibat masuknya dana-dana asing sebagai dampak dari kebijakan quantitave easing di Amerika Serikat (AS), dan commodities super cycle yang harganya naik luar biasa," ujar dia.

Terkait itu, mulai kuartal III-2013 hingga tahun 2014, perbankan menurutnya, perlu mencermati lima hal. Masing-masing yakni menjaga ketersediaan likuiditas, mengelola non-performing loan dengan baik, selektif memilih nasabah, lindung nilai, serta tetap menjaga pertumbuhan. Ketidakpastian yang terjadi saat ini, ujar Pahala, memang agak lebih panjang dibandingkan tahun 2008, terkait rencana kebijakan tapering AS.

"Yang kita mau, tapering kan pasti terjadi. Daripada menunggu lama, diharapkan bisa dilakukan segera, untuk mengurangi ketidakpastian. Dengan demikian, kita bisa mengukur dampaknya," jelas Pahala.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Wujudkan Liburan Lebih Cerdas dan Hemat

Wujudkan Liburan Lebih Cerdas dan Hemat

MULTIMEDIA

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon