ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Melalui Bisnis Aviasi dan Migas, GE Incar Pertumbuhan Dua Digit

Senin, 3 Februari 2014 | 17:22 WIB
DS
FH
Penulis: Damiana Ningsih Simanjuntak | Editor: FER
Menteri Perindustrian, MS Hidayat (ketiga kiri), Wakil Menteri Perhubungan yang juga Komisaris Utama Garuda Indonesia, Bambang Susantono (kedua kiri), Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar (tengah), Ketua Umum KADIN, Suryo Bambang Sulisto (kiri), Chairman and CEO General Electric (GE), Jeffrey R Immelt (ketiga kanan), Deputy Chief of Mission Kedubes AS, Kristen F. Bauer (kedua kanan) dan Direktur Utama GMF AeroAsia, Richard Budihadianto (kanan), berbincang saat peluncuran
Menteri Perindustrian, MS Hidayat (ketiga kiri), Wakil Menteri Perhubungan yang juga Komisaris Utama Garuda Indonesia, Bambang Susantono (kedua kiri), Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar (tengah), Ketua Umum KADIN, Suryo Bambang Sulisto (kiri), Chairman and CEO General Electric (GE), Jeffrey R Immelt (ketiga kanan), Deputy Chief of Mission Kedubes AS, Kristen F. Bauer (kedua kanan) dan Direktur Utama GMF AeroAsia, Richard Budihadianto (kanan), berbincang saat peluncuran "engine test cell" CFM56-7B di Garuda Maintenance Facility (GMF), Bandara Soekarno Hatta, Tangerang. (ANTARA FOTO/ANTARA FOTO)

Jakarta - Grup usaha multi sektor asal Amerika Serikat (AS) General Electric (GE) mengincar pertumbuhan bisnisnya di Indonesia mencapai dua digit pada tahun ini. CEO GE Indonesia Handry Satriago mengatakan, tahun 2013, GE di Indonesia berhasil membukukan pendapatan lebih dari US$ 1 miliar.

Melalui 8 sektor bisnisnya, kata Handry, GE merekrut lebih dari 100 pekerja baru, dan menyelesaikan pelatihan atas 500 pelanggannya. Selan=in itu, kata dia, GE juga telah memulai realisasi komitmen investasinya di Indonesia senilai US$ 300 juta dalam 3 tahun dengan target penyerapan 33% per tahun dari setiap investasi berhasil dilaksanakan.

"Keberadaan GE di Indonesia tahun 2013 merupakan periode menantang dan menarik. Saya selalu memiliki target double digit di pundak saya. Demikian juga dengan keberadaan GE tahun ini di Indonesia, membidik pertumbuhan double digit. Meski ada kekhawatiran mengenai momen Pemilu, dimana berdasarkan pengalaman, ada potensi pembuatan keputusan oleh pemerintah tertunda, kami tetap optimistis. Tahun 2014 bagi GE di Indonesia adalah tahun penuh tantangan, dan karena itulah kami ada di sini," kata Handry di sela diskusi media di Jakarta, Senin (3/2).

Handry mengatakan, Indonesia merupakan pasar yang penting bagi GE. Dengan makro ekonomi dan kebutuhan pembangunan infrastruktur yang masih tinggi, lanjut dia, Indonesia menjadi negara tujuan berbisnis yang besar.

ADVERTISEMENT

Berada di bisnis multi sektoral, papar dia, mulai dari lampu, aviasi, transportasi, migas, hingga kesehatan, memantapkan komitmen GE memperkuat posisi di Indonesia.

Hal itu, kata Handry, tidak hanya melalui kerjasama bisnis dengan sejumlah pelanggannya. Seperti, Garuda Indonesia dan PT KAI. Tapi, ujar Handry, juga dengan universitas, mahasiswa, dan pekerja muda di Indonesia yang ingin berkembang bersama GE. Yakni, melalui upaya pengembangan inovasi yang berdedikasi di Indonesia.

"Melalui kerjasama GE dengan Garuda Indonesia, Indonesia akan bisa melakukan service maintenance untuk mesin CFM 56-7B. Kerjasama pelatihan ini akan membuka peluang bagi Indonesia menjadi tempat untuk maintenance bagi sekitar 1.000 pesawat yang menggunakan CFM 56-7B," tutur Handry.

Menurutnya, GE juga dalam proses ekspansi pabrik manufaktur peralatan untuk pengeboran lepas pantai di Batam. Dengan kapasitas 2 unit per bulan. Indonesia akan menjadi negara pertama di Asia Pasifik yang memiliki fasilitas produksi subsea production trees tipe vertical yang bentuknya seperti christmas tree.

"Ini fasilitas kedua GE setelah yang ada di Aberdeen, Skotlandia. GE memperkuat ekspansinya di sini mengingat masa depan bisnis sektor ini yang masih akan kuat dengan proyek-proyek pengeboran lepas pantai. Ini akan menghasilkan lapangan kerja baru setidaknya bagi skeitar 100 orang," tambah dia.

Selain itu, lanjut Handry, pihaknya menjadwalkan tahun 2015, pembangunan Indonesia Learning Center bisa selesai. Melalui fasilitas itu, diharapkan bisa memberikan eplatihan bagi sekitar 200 pekerja Pertamina dan PLN. GE, kata dia, juga menargetkan bisa memberikan pelatihan teknis bagi sekitar 1.000 orang pekerja pelanggannya dalam 3 tahun ke depan.

"Kami juga mulai masuk ke bidang bisnis pertambangan. Menyediakan peralatan dan perlengkapan, saat ini mempromosikan anti collision system. GE Lighting juga melakukan ekspansi di pabriknya yang ada di Sleman, Jogjakarta. Dengan ekspansi itu, GE akan menghasilkan sekitar 35 juta unit lampu halogen, yang difokuskan untuk ekspor," kata Handry.

Handry mengatakan, keberadaan GE di Indonesia tidak hanya terfokus pada produk. Namun, lanjut dia, memperkuat kerjasama melalui teknologi dan sumber daya manusia (SDM).

"Memang terdengar klise. Tapi, kami ingin bertumbuh bersama. Karena, Indonesia tidak hanya pasar bagi GE. Melainkan juga sebagai tempat belajar. Kami akan terus fokus mempromosikan local talents, menciptakan lebih banyak kesempatan kerja. Kami yakin, setelah tahun 2014, pertumbuhan di Indonesia akan lebih tinggi karena masih banyak rencana pembangunan infrastruktur yang akan direalsiasikan pemerintah. Indonesia akan menjadi lokasi yang terbesar untuk berinvestasi. Dan, menangkap peluang itu, saya bermimpi bisa membawa GE Indonesia dapat memiliki multi modal facilities center di Indonesia. Saat ini, sedang dipersiapkan, mengkaji secara skala ekonominya," kata Handry.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon