ISKA Desak Jokowi-JK Rombak Kabinet Hadapi Tantangan Ekonomi Tahun 2015
Jumat, 19 Desember 2014 | 01:14 WIB
Jakarta - Ketua Presidium Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) Muliawan Margadana mendesak Pemeritahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla untuk merombak kabinet dalam menghadapi tantangan ekonomi 2015.
Desakan ini merupakan kesimpulan sekaligus rekomendasi penting dari Forum Group Discussion (FGD) "Economy & Politic Outlook 2015" yang diselenggarakan ISKA di Gedung KWI, Cikini, Jakarta pada Kamis (18/12).
Dalam FGD ini, hadir juga Komisioner Kompolnas Prof Adrianus Meliala, budayawan Eka Budianta Putut Prabantoro, beberapa politisi dan cendekiawan Katolik.
"Tantangan ekonomi yang tidak menggembirakan saat ini menuntut Jokowi untuk melakukan langkah-langkah strategis dan tepat guna, termasuk kemungkinan perombakan kabinet dengan menempatkan menteri yang berkompeten di bidangnya," ujar Muliawan dalam FGD tersebut.
Muliawan menilai beberapa indikasi buruk di bidang ekonomi pada akhir tahun 2014 sangat berdampak negatif bagi kondisi politik dan keamanan pada tahun 2015.
Menurutnya, turunnya harga minyak menjadi kisaran US$ 60 – 70 per barel akibat dari perang energi antara Barat vs Russia akan mengoreksi target APBN yang menggunakan patokan harga minyak sebanyak US$ 105 per barel.
"Ekonomi Indonesia juga diperburuk seiring dengan melemahnya nilai mata uang terhadap dolar sebesar Rp 12.900 per dolar," ungkapnya.
Jika dolar menembus Rp 13.250, lanjutnya dapat diduga Indonesia dalam keadaan darurat ekonomi karena pemerintah harus menata ulang struktur keuangan dalam APBN dengan menggunakan skala prioritas.
"Besar kemungkinan program pembangunan yang terkait dengan dijadikannya Indonesia sebagai poros maritim dunia akan terganggu dan bahkan tertunda," katanya.
ISKA, kata Muliawan, mengingatkan Jokowi-JK bahwa ketika bulan madu usai, rakyat akan menuntut diturunkannya harga BBM, mengingat harga minyak dunia turun. Jika harga BBM tidak turun sementara harga minyak di pasaran dunia turun, rakyat akan sadar dari "bulan madunya" bahwa mereka telah memberi subsidi kepada pemerintah.
"Yang menjadi masalah adalah, jika harga BBM diturunkan tidak otomatis harga kebutuhan bahan pokok dan kebutuhan rakyat lainnya seperti rumah akan turun," ulasnya.
Selain itu, menurutnya keburukan ekonomi lainnya adalah investasi migas domestik akan melemah karena para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) enggan melakukan investasi.
Investor menilai harga minyak di pasaran turun sementara biaya investasi ataupun produksi migas masih menggunakan nilai kontrak jangka panjang dengan asumsi harga minyak sebelum turun.
"Sementara itu, pencapaian target pajak 2015 akan lebih buruk daripada tahun 2014 yang hanya mencapai 70 persen," tambahnya.
Karena itu, Muliawan menganjurkan agar Jokowi-JK merombak kabinetnya khususnya yang bergerak di bidang perekonomian pada akhir tahun 2014 atau awal tahun 2015.
Dia yakin Jokowi-JK sudah mengetahui mana menteri yang berani bertindak dan mengeksekusi kebijakan sesuai dengan visi-misinya dan mana yang tidak.
"Hanya 40 persen saja menteri yang dikenal secara dekat oleh Jokowi. Sementara yang lain muncul di kabinet karena kekuatan politik. Karena itu, Jokowi perlu rombak kabinetnya dan ISKA pada waktunya akan memberikan rekomendasi ke Jokowi terkait perombakan kabinet tersebut," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




