Serap Garam Lokal, Industri Gairahkan Produksi Petani
Sabtu, 18 April 2015 | 23:35 WIB
Sampang- Pelaku industri nasional mulai menyerap garam lokal yang diproduksi petani. Selain mengurangi impor, langkah ini juga akan meningkatkan pendapatan.
Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan hal itu saat menyaksikan penandatanganan kontrak penyerapan garam lokal antara petani garam dengan industri pengguna garam di Sampang, Madura, Jawa Timur, Sabtu (18/4).
Ada tujuh perusahaan yang melakukan penyerapan yaitu PT Sumatraco Langgeng Abadi, PT Cheetam Garam Indonesia, PT Saltindo, PT Unichem, PT Budiono Bangun, PT Susanti Megah, dan PT Garindo Sejahtera Abadi.
Menurut Menperin, penyerapan garam lokal merupakan langkah positif bagi para petani garam nasional. Ke depan, pemerintah berharap penyerapan serupa dilakukan di Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Menteri juga optimistis, industri pengguna garam yang bergabung dalam anggota Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) berperan mendukung program produktivitas garam di lahan petani, bermitra dengan petani dan terus melakukan penyerapan garam lokal. Menurut Ketua AIPGI Tony Tanduk, volume penyerapan tahap pertama ini mencapai 175.000 ton garam.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VI DPR Farid Al Fauzi mengungkapkan, DPR prihatin dengan minimnya serapan garam produksi petani. "Padahal petani garam di Indonesia sangat banyak, di Madura sendiri ada 12.000 petani atau 43 persen dari seluruh petani garam di Indonesia," ujarnya.
Komisi DPR bidang perindustrian, perdagangan dan BUMN itu aktif mendorong mitra kerjanya agar merealisasikan penyerapan garam oleh industri.Pihaknya juga telah menyetujui Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada PT Garam senilai Rp 300 miliar. "Lewat komunikasi yang intensif dengan pemerintah, akhirnya sekarang mulai diwujudkan," terang Farid.
Selain Farid Al Fauzi, kunjungan kerja Menperin ke Sampang ini juga diikuti oleh anggota Komisi VI lainnya, Kholilurrahman dan Slamet Junaedi. Ketiganya merupakan wakil rakyat asal Madura.
Bupati Sampang A Fannan Hasib mengatakan Sampang merupakan salah satu sentra produksi garam terluas di Indonesia. Rinciannya, lahan milik petani garam 4.200 hektare sedangkan PT Garam memiliki lahan 1.100 hektare.
"Produksi setahun mencapai 280.000 ton sebelum semuanya terserap. Kami berharap program pemerintah termasuk penyerapan garam oleh industri akan meningkatkan produksi dan kualitas garam," ujarnya.
Kementerian Perindustrian menghitung, kebutuhan garam nasional tahun 2015 diperkirakan sekitar 2,6 juta ton dan sektor industri yang paling banyak menggunakan garam adalah industri chlor alkali plant (soda kostik), aneka pangan dan farmasi. Sayangnya, kebutuhan yang tinggi belum dapat dipenuhi produksi dalam negeri dan mesti impor.
"Satu hal yang perlu diluruskan, impor garam tetap dilakukan karena memang industri membutuhkan kualifikasi garam yang lebih tinggi dibanding garam konsumsi," terang Menperin.
Menyiasati impor garam, lanjut Menperin, dilakukan program intensifikasi dan ekstensifikasi lahan produksi garam. Kegiatan intensifikasi seperti penataan lahan, waduk penampungan, dan perbaikan saluran primer ini telah dilakukan di sentra-sentra produksi garam eksisting dan dilakukan secara bertahap.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




