Akselerasi Industri, Indonesia Butuh Banyak Operator Otomatisasi
Rabu, 19 Agustus 2015 | 18:14 WIB
Nusa Dua - Untuk mengakselerasi industri yang menggunakan teknologi dengan efisiensi tinggi, Indonesia masih membutuhkan banyak tenaga ahli bidang otomatisasi. Hal tersebut disampaikan Dr Augie Widyotriatmo, asisten profesor di Fakultas Teknologi Industri ITB, di sela-sela acara Siemens Process Automation Conference and Exhibition (SPACe) 2015 di Nusa Dua, Bali, Rabu (19/8) sore. Namun Augie tidak menyebutkan secara rinci berapa jumlah kekurangan tenaga ahli tersebut.
Ia menambahkan sebenarnya pendidikan tinggi setingkat sarjana, politeknik, hingga SMK sudah memasukan kurikulum otomatisasi dalam pengajarannya. Tapi jumlah lulusan yang dihasilkan masih kurang dari yang dibutuhkan industri. Selain itu ilmu yang didapatkan di bangku kuliah dan sekolah masih berupa filosofi, konsep, dan dasar-dasarnya. "Ibaratnya mereka itu seperti kunci yang tidak bisa membuka pintu, tinggal dikikir sedikit mereka sudah jadi," terang Augie.
Seiring dengan kebutuhan operator industri otomatisasi yang meningkat, banyak perusahaan yang menyelenggarakan pelatihan khusus bagi para operator. "Malah ada konsep yang lebih bagus, yaitu melalui simulasi model yang mempresentasikan suatu proses industri, jadi operator bisa merasakan langsung prosesnya," tambahnya.
Sedangkan CEO Siemens Indonesia, Josef Winter, menyatakan pendidikan merupakan kunci penting suatu bangsa. Ia menjelaskan Indonesia harus mencetak tenaga kerja dengan tingkat keahlian yang tinggi dan khusus untuk bersaing dengan negara lain. "Siemens selalu bekerja sama dengan dunia pendidikan untuk mewujudkan hal itu dan itu memang kuncinya," jelas Josef. Hal itu diiyakan oleh Augie yang kerap mengirimkan mahasiswanya mengikuti training di Siemens.
Augie mengutarakan industri Indonesia sudah saatnya beralih dari proses manual menuju otomatisasi untuk berakselerasi. "Jika dipersentasekan, sekitar 80 persen proses industri sudah menggunakan cara otomatisasi tapi itu hanya berlaku di industri yang memerlukan effort besar seperti minyak, gas, tambang, atau gula. Sedangkan menengah ke bawah belum," katanya. Di sisi lain, menurutnya, tak mudah bagi pelaku industri di Tanah Air untuk mengubah proses industri dari manual ke otomatisasi. "Tidak mudah untuk melakukan perubahan yang sangat besar itu, hal utama yang perlu dirubah adalah mindset-nya," tambahnya.
Ia juga tidak sependapat dengan pernyataan jika otomatisasi akan mengurangi penggunaan tenaga manusia. "Justru menurut riset di Amerika Serikat, proses industri otomatisasi meningkatkan produktivitas perusahaan dan memperbanyak sumber daya manusia untuk mengolahnya," pungkas Augie.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




