ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

KUTT Suka Makmur Siap Produksi Susu Kemasan

Jumat, 21 Agustus 2015 | 00:17 WIB
SJ
B
Penulis: Syeba Jubilee | Editor: B1
Ilustrasi Sapi Perah
Ilustrasi Sapi Perah (Antara/Adeng Bustomi)

Jakarta - Koperasi Usaha Tani Ternak (KUTT) Suka Makmur, Pasuruan, Jawa Timur yang selama ini menjadi pemasok susu untuk bahan baku industri pengolahan, siap memproduksi susu segar dalam kemasan pada tahun depan.

Manajer KUTT Suka Makmur Sanggar Wibowo di Jakarta, Kamis (20/8) menyatakan, susu segar dalam kemasan tersebut pada tahap awal hanya akan dipasarkan di pulau Bali.

"Produksi susu segar dalam kemasan tersebut sekitar 6 ton per hari atau 10 persen dari produksi susu kami yang mencapai 64 ton per hari," katanya seperti dilansir Antara.

Susu segar dengan merek G milk tersebut merupakan susu pasteurisasi dalam kemasan 1, 2 dan 3 liter yang menggunakan teknologi pasteurisasi HSTS sehingga kesegaranya lebih terjaga dan memiliki umur simpan lebih lama.

ADVERTISEMENT

Sanggar menyatakan, untuk merealisasikan usaha produksi susu segara dalam kemasan tersebut pihaknya menanamkan investasi sekitar Rp 8,5 miliar dengan kapasitas produksi 6 ton per hari.

KUTT Suka Makmur yang didirikan pada 1978 di Kecamatan Grati tersebut saat ini memiliki anggota sebanyak 2.500 peternak sapi perah dari lima kecamatan yakni Grati, Lekok, Nguling, Lumbang dan Rejoso, serta mampu menghasilkan susu sebanyak 64 ton per hari.

Sementara itu, tambahnya, jumlah sapi perah yang dimiliki anggota mencapai 18 ribu ekor dengan sapi laktasi (menyusui) 9.000 ekor dan produktivitas 9 liter/ekor per hari.

"Produktivitas sapi perah memang masih jauh dari ideal yakni 15 liter per hari per ekor," kata pria berusia 26 tahun itu.

Menurut dia, saat ini sekitar 90 persen susu yang dihasilkan koperasi tersebut disalurkan untuk industri susu Frisian Flag dan 10 persen ke Nestle.

Terkait harga penyerapan susu dari peternak ke koperasi, Sanggar menyatakan, sebesar Rp 4.700 per liter sementara harga jual ke industri mencapai Rp 6.000/liter.

"Koperasi harus menanggung biaya angkut ke Jakarta, serta biaya pendinginan," katanya.

Menyinggung dampak kenaikan harga daging sapi terhadap agribisnis susu, Sanggar menyatakan, untuk saat ini belum terlihat pengaruhnya seperti dua tahun lalu.
Dia mengungkapkan, pada 2013 para peternak sapi perah banyak melakukan pemotongan ternak mereka karena harga daging tinggi sehingga produksi susu KUTT Suka Makmur menurun dari 76 ton menjadi 53 ton per hari.

"Kami kuatir jika tidak ada pasokan sapi potong nantinya akan terjadi lagi pemotongan sapi perah ini," katanya.

Namun, dia berharap peternak sapi perah tidak melakukan hal itu seiring kenaikan harga susu dari sebelumnya Rp 4.500/liter menjadi Rp 4.700 dan rencananya akan ditingkatkan lagi menjadi Rp 4.900/liter pada November 2015.

Sanggar menyatakan, saat ini nilai perputaran uang koperasi yang juga memiliki usaha pembuatan pakan ternak tersebut mencapai Rp1,3 miliar dalam setahun.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon