Petronas Tegaskan Komitmen Bisnis di Indonesia
Senin, 10 Oktober 2016 | 15:24 WIB
Jakarta- Perusahaan asal Malaysia, Petroliam Nasional Bhd (Petronas) menyatakan tetap komitmen menjalankan bisnis minyak dan gas (migas) di Indonesia meski harga minyak dunia anjloknya hingga memukul Badan Usaha Mililk Negara (BUMN) Malaysia tersebut.
"Sebagai operator dari dua lapangan produksi Bukit Tua dan Kepodang, kami sangat senang dengan apa yang dicapai dan berharap dapat mencapai produksi seperti yang ditargetkan pemerintah Indonesia," kata Country Chairman Petronas Indonesia, Mohamad Zaini Md Noor kepada wartawan di Jakarta, Senin (10/10).
Mohamad Zaini mengatakan pendatanganan Nota Perjanjian Kerja Sama dengan PT Pertamina (Persero) pada Juli 2016 merupakan salah satu wujud komitmen kuat Petronas di Tanah Air. Pada tahun 2015, perusahaan negara Malaysia ini juga telah menandatangani dua kontrak Bagi hasil (production sharing contract/PSC) untuk Wilayah Kerja (WK) North Madura II dimana Petronas sebagai operator, dan Wilayah Kerja Kualakurun bekerja sama dengan ConocoPhillips. Petronas juga berencana memulai tahap produksi Lapangan gas Kepodang dari WK Muriah di lepas pantai Jawa Tengah dan Lapangan Minyak Bukit Tua dari WK Ketapang di lepas pantai Jawa Timur.
Sementara untuk kegiatan eksplorasi, Petronas berupaya menemukan cadangan migas di Wilayah Kerja West Glagah Kambuna. Selain WK migas yang dioperasikan sendiri, Petronas memiliki participating interest pada beberapa WK migas yang dioperasikan perusahaan lain yaitu KKKS Jabung, KKKS Natuna Sea A Block dan KKKS Madura Offshore. Total produksi Petronas dari ketiga wilayah tersebut mencapai 31.000 setara barel minyak per hari.
Sejak memulai bisnis di Indonesia tahun 2000, lanjut dia, hingga saat ini Petronas memiliki sembilan kontrak bagi hasil, empat di antaranya menjadi operator.
Di bisnis hilir, Petronas mengoperasikan beberapa anak perusahaan di antaranya Petronas Niaga Indonesia (PNI), Petronas Chemical Marketing (PCM) dan Petronas Lubricant Indonesia (PLI). "Fokus usaha PNI di sektor perdagangan dan pemasaran bahan bakar, PLI untuk pemasaran dan ritel produk pelumas. Sedangkan PCM fokus pada pemasaran produk-produk petrokimia," katanya.
Pada Agustus lalu Petronas mengumumkan laba perusahaan pada kuartal II-2016 anjlok 85 persen sebagai imbas dari penurunan harga minyak dunia. Petronas juga mengumumkan proyeksi bisnis yang suram untuk tahun 2017. Petronas juga mengumumkan rencananya untuk memangkas belanja hingga 50 miliar ringgit dalam kurun empat tahun ke depan sebagai respon ambruknya harga minyak.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




