Jadikan Sagu Sebagai Pangan Strategis
Kamis, 10 November 2016 | 02:31 WIB
Jakarta – Komitmen negara dalam mengembangkan tanaman sagu masih minim. Padahal, potensi sagu dan olahannya sangat besar sebagai alternatif sumber pangan, energi dan bahan baku industri di dalam negeri. Sagu harus ditempatkan sebagai sumber pangan strategis untuk meningkatkan perhatian dan mendorong pengembangannya.
Demikian disampaikan Ketua Masyarakat Sagu Indonesia (Massi) MH Bintoro di Bogor, Rabu (9/11), ketika membacakan rekomendasi dari seminar tentang sagu yang digelar Massi.
Dia menjelaskan, potensi sagu yang ada di Indonesia sangat banyak, namun pemanfaatannya masih minim. Sagu dan produk turunannya bisa diolah untuk memenuhi ketergantungan Indonesia pada beras dan gula yang dipenuhi dari impor.
"Impor beras dan gula masih sangat tinggi serta membuang devisa kita. Indonesia menyimpan keberagaman pangan lokal di berbagai daerah, seperti sagu, yang bisa menggantikan impor pangan. Bila perlu, masyarakat tidak perlu lagi bergantung kepada beras," kata Bintoro yang juga pakar sagu dari Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.
Saat ini, luas lahan sagu di Indonesia 5,2 juta hektare. Namun produksinya diperkirakan baru sekitar 100 ribu ton. Penyebaran lahan sagu, tidak hanya di wilayah Indonesia Timur tetapi hampir seluruh kawasan pantai di tanah air. Areal penanaman sagu berada di daerah Papua, Maluku, Sulawesi utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Jambi, Sumatera Barat, dan Riau.
Untuk lebih mengoptimalkan pengembangannya, kata Bintoro, sagu harus dijadikan sebagai pangan strategis sehingga ada prioritas dibandingkan hanya menjadi salah satu hasil hutan nonkayu.
Hal senada disampaikan Bupati Kepulauan Meranti Irwan Nasir bahwa komitmen pemerintah secara nasional masih minim untuk mendukung budidaya, pengolahan, dan pemasaran dari sagu. Prioritas padi, jagung, kedelai (pajale) pemerintah saat ini harus menambahkan pangan lokal lainnya, seperti sagu.
"Jadi prioritasnya tidak lagi hanya pajale tetapi juga padi, jagung, kedelai, dan sagu atau bisa disingkat dengan pajalegu. Konsumsi sagu juga terus meningkat karena dinilai lebih sehat dibandingkan beras dan jagung," ujarnya.
Sedangkan Dwi Asmono selaku Direktur Research & Development PT Sampoerna Agro mengatakan pengembangan sagu harus lebih dioptimalkan. Belajar dari pengalaman kelapa sawit pada awal 1980-an, maka sagu juga harus mendapatkan perhatian khusus yang didukung berbagai pihat terkait secara bersama-sama.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




