Pembebasan Lahan Tol Kunciran-Bandara Perlu Dikebut
Sabtu, 11 Maret 2017 | 16:10 WIB
Jakarta - Ahli dibidang infrastruktur Danang Parikesit meminta kepada pemerintah daerah dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) lebih aktif lagi menangani pembebasan lahan tol Kunciran-Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) yang sudah sejak 2012 hingga kini progresnya belum signifikan.
"Cepat atau lambatnya pembebasan lahan erat kaitannya dengan kemampuan pemda (pemerintah daerah) dan BPN dalam menyelesaikan prosesnya," kata Danang kepada Beritasatu.com, Sabtu (11/3).
Danang mengatakan, ada dua risiko yang harus diperhatikan investor dalam pembangunan jalan tol di Indonesia yakni akuisisi lahan dan pelaksanaan konstruksi.
Keduanya, menurut Danang, masih menjadi kendala yang menghantui pengembang jalan tol meskipun pemerintah telah memberikan payung hukum untuk meminimalkan dua risiko tersebut.
Danang mengatakan, risiko akuisisi lahan sangat berkaitan erat dengan kemampuan BPN dan pemerintah kota/kabupaten untuk menyediakan lahan bagi pembangunan jalan tol.
Menurut Danang, instrumen regulasi untuk penyediaan lahan bagi infrastruktur sebenarnya sudah cukup, faktanya di Jawa yang penduduknya padat prosentase lahan yang dibebaskan jauh lebih besar dibandingkan yang tidak bebas.
"Persoalannya lebih kepada keahlian petugas pengadaan lahan dan komitmen penuh dari pemerintah daerah. Kalau bupati/wali kota berkerjanya setengah hati tentunya akan sulit proses pembebasan lahannya," ujar dia.
Seharusnya ruas tol yang lokasinya terkendala pembebasan lahan berkaca pada daerah lain yang proses pembebasan lahannya berjalan lebih cepat, apalagi kalau masyarakatnya sudah bersedia untuk pindah.
Patut juga diingat, kata dia, untuk pembebasan lahan sesuai peraturan melibatkan apraisal independen untuk menentapkan harga tanah yang mengacu kepada peraturan yang berlaku sehingga pemilik tanah akan tetap diuntungkan.
Sebagai informasi, pekerjaan konstruksi tol Kunciran-Bandara Soetta dengan total panjang 14,18 kilometer masih menunggu pembebasan tanah. Saat ini progres pengadaan tanah baru mencapai 26,1%. Padahal, proyek tol kunciran-bandara masuk dalam proyek JORR 2, salah satu proyek strategis nasional yang dijadikan prioritas Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Herry Trisaputra Zuna menegaskan, pekerjaan baru dapat dimulai apabila lahan yang ada di seksi IV sudah tersedia lebih 50%.
Jalan tol Kunciran-Bandara Soetta diharapkan tersedia lahan yang sangat besar yang dibagi ke dalam empat seksi pekerjaan meliputi seksi I Kunciran, Pakojan, Cipete. Seksi II Cipete, Poris Plawad Indah, Buaran Indah, Tanah Tinggi. Kemudian, seksi III Tanah Tinggi, Batusari, Batujaya, Belindung, Pajang, Jurumudi, dan Seksi IV Jurumudi dan Benda.
Jalan yang akan melintasi 12 kelurahan di lima kecamatan di Kota Tangerang ini membutuhkan sebanyak 2.497 bidang tanah dengan luas total lahan yakni 1.226,965 meter persegi.
"Kami berharap Pemkot Tangerang dan BPN dapat mendukung percepatan pembebasan pada segmen-segmen yang menjadi prioritas sehingga pembangunan konstruksi proyek ini dapat segera dimulai," ujar Herry.
Jalan tol ini nantinya merupakan jalur alternatif menuju bandara Soekarno Hatta sebagian akan dibangun melayang (elevated), serta sebagian lagi di bawah untuk mengurai kepadatan lalu-lintas di Kota Tangerang, terutama jalan yang menuju Bandara Soekarno Hatta.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




