BNI Belum Siap Membiayai Perikanan Tangkap Laut
Selasa, 5 Juni 2012 | 20:39 WIB
BNI menyalurkan kredit industri pengolahan perikanan sekitar Rp 5 triliun.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk telah menyalurkan kredit ke industri perikanan sekitar Rp 5 triliun hingga saat ini. Perseroan menggelar program kredit kemitraan dengan koperasi perikanan sebagai cara untuk mempelajari sektor tersebut.
“Kredit perikanan kami untuk industri pengolahannya sekitar Rp 5 triliun sampai sekarang. Tidak ada target khusus tahun ini, karena kami masih dalam proses belajar untuk sektor perikanan. Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) cukup kecil,” ujar Direktur Utama BNI, Gatot Mudiantoro Suwondo seusai meresmikan Kampoeng BNI di Muara Angke, Jakarta, Selasa (5/6).
Gatot mengatakan jika ingin lebih serius membiayai sektor perikanan, perseroan akan fokus terlebih dahulu di budidaya dan pengolahan. Di sisi lain, BNI menurutnya belum siap untuk membiayai perikanan tangkap di laut dalam.
“Kami belum ada pengalaman di perikanan tangkap atau pembiayaan kapal nelayan. Itu harus ada keahlian tersendiri. Jadi, kami masih fokus di budidaya dan pemberdayaan masyarakat dulu, kalau sudah siap baru ke wilayah pantai, kemudian laut dalam. Kalau dalam 6 bulan-1 tahun bagus, kami replikasi ke tempat lain,” kata Gatot.
Dalam rangka mempelajari sektor perikanan, perseroan memberikan kredit kemitraan melalui Program Kemitraan (PK) yang merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR).
Kepada koperasi-koperasi perikanan, perseroan mengenakan suku bunga sekitar 6 persen.
Dalam PK tersebut, BNI juga menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dalam bentuk linkage kepada koperasi perikanan, untuk diteruskan kepada para pengusaha pengolahan ikan.
Gatot mengatakan, kendala utama penyaluran kredit ke sektor perikanan adalah minimnya pendamping yang cukup ahli.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk telah menyalurkan kredit ke industri perikanan sekitar Rp 5 triliun hingga saat ini. Perseroan menggelar program kredit kemitraan dengan koperasi perikanan sebagai cara untuk mempelajari sektor tersebut.
“Kredit perikanan kami untuk industri pengolahannya sekitar Rp 5 triliun sampai sekarang. Tidak ada target khusus tahun ini, karena kami masih dalam proses belajar untuk sektor perikanan. Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) cukup kecil,” ujar Direktur Utama BNI, Gatot Mudiantoro Suwondo seusai meresmikan Kampoeng BNI di Muara Angke, Jakarta, Selasa (5/6).
Gatot mengatakan jika ingin lebih serius membiayai sektor perikanan, perseroan akan fokus terlebih dahulu di budidaya dan pengolahan. Di sisi lain, BNI menurutnya belum siap untuk membiayai perikanan tangkap di laut dalam.
“Kami belum ada pengalaman di perikanan tangkap atau pembiayaan kapal nelayan. Itu harus ada keahlian tersendiri. Jadi, kami masih fokus di budidaya dan pemberdayaan masyarakat dulu, kalau sudah siap baru ke wilayah pantai, kemudian laut dalam. Kalau dalam 6 bulan-1 tahun bagus, kami replikasi ke tempat lain,” kata Gatot.
Dalam rangka mempelajari sektor perikanan, perseroan memberikan kredit kemitraan melalui Program Kemitraan (PK) yang merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR).
Kepada koperasi-koperasi perikanan, perseroan mengenakan suku bunga sekitar 6 persen.
Dalam PK tersebut, BNI juga menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dalam bentuk linkage kepada koperasi perikanan, untuk diteruskan kepada para pengusaha pengolahan ikan.
Gatot mengatakan, kendala utama penyaluran kredit ke sektor perikanan adalah minimnya pendamping yang cukup ahli.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




