Natal Tahun Ini adalah yang Terburuk Sejak Era Great Depression
Selasa, 25 Desember 2018 | 11:25 WIB
New York - Bursa Amerika Serikat memasuki fase bearish. Bearish adalah kondisi di mana pasar modal terkoreksi 20 persen atau lebih dari puncak sebelumnya.
Indeks S&P 500 masuk ke dalam fase tersebut pada hari Senin (24/12) waktu setempat. Indeks tersebut turun 20 persen dari level tertinggi dalam 52 minggu terakhir. Biasanya bulan Desember adalah bulan yang baik bagi Bursa AS, tetapi tahun ini, kinerja bursa adalah yang terburuk sejak era Great Depression 1931. Bulan Desember ini, S&P 500 dan Dow Jones terkoreksi hingga 7,8 persen dan 7,6 persen, terburuk sejak 1931 di mana kedua indeks terkoreksi 14,5 persen dan 17 persen.
"Ini Malam Natal dan Presiden Trump malah menjerumuskan negara ini ke kaos. Pasar modal anjlok, sementara presiden malah menyatakan perang personal dengan The Fed - setelah dia memecat Menteri Pertahanan," kata Pemimpin Minoritas Parlemen Nancy Pelosi dan Pemimpin Minoritas Senate Charles E. Schumer dalam pernyataan bersama, setelah pasar ditutup.
Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dan penjabat Kepala Staf Gedung Putih Mick Mulvaney mencoba menenangkan pasar dengan mengatakan bahwa fundamental perekonomian AS tetap kuat. Namun, hal itu tidak berhasil.
Menjelang Natal, indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi 2.91 persen ke 21.792,2, S&P 500 turun 2,71 persen ke 2.351,1, Nasdaq turun 2,21 persen ke 6.192,92, NYSE turun 2,42 persen ke 10.769,83.
Anjloknya Bursa AS menular ke Asia. Di Jepang hari ini, Nikkei 225 terkoreksi 4,72 persen ke 19.214,5, Topix turun 4,63 persen ke 1.419,27, dan CSI 300 turun 2,28 persen ke 2.969.
Kapan fase bearish ini akan berlalu? Menurut analisis Goldman Sachs dan CNBC, sejak Perang Dunia II, pasar bearish rata-rata terkoreksi hingga 30,4 persen selama 13 bulan. Diperkirakan, dibutuhkan sekitar 21,9 bulan untuk pulih kembali.
Banyak hal yang harus diperhatikan pelaku pasar tahun depan: kenaikan suku bunga The Fed membuat kredit semakin mahal dan tahun depan diproyeksikan masih akan ada dua kali lagi, perang dagang dengan Tiongkok, shutdown pemerintah AS diperkirakan berlangsung hingga akhir pekan ini, menurunnya harga minyak mentah dunia.
Sentimen lain yang dapat menghambat kinerja pasar adalah pengunduran diri mendadak Menteri Pertahanan AS Jim Mattis, spekulasi pemecatan Gubernur The Fed Jerome Powell, dan keputusan Presiden Donald Trump menarik pasukan dari Suriah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




