Melambat, Ekspor Tiongkok Agustus di Bawah Ekspektasi

Melambat, Ekspor Tiongkok Agustus di Bawah Ekspektasi
Seorang pekerja di satu pabrik mengolah sayuran kering untuk ekspor ke AS, Inggris, Jepang, Korea Selatan dan negara-negara lain, di Zhangye di provinsi Gansu di Tiongkok barat laut, Minggu (25/8/2019). ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Faisal Maliki Baskoro / FMB Senin, 9 September 2019 | 11:56 WIB

Beijing, Beritasatu.com - Ekspor Tiongkok ke AS selama bulan Agustus melambat akibat melambatnya perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut. Tiongkok dinilai bakal membutuhkan lebih besar untuk mendorong perekonomian di tengah-tengah meningkatnya ketegangan perang dagang AS-Tiongkok.

Beijing disinyalir bakal mengumumkan sejumlah paket kebijakan dalam beberapa pekan ke depan untuk menghindari risiko perlambatan ekonomi di tengah-tengah tekanan dari AS. Bank Sentral Tiongkok diperkirakan bakal memangkas suku bunga di beberapa sektor, pertama kalinya dalam empat tahun.

Pada Jumat lalu, bank sentral Tiongkok memangkas syarat rasio pencadangan untuk memberikan ruang bagi perbankan memberikan pinjaman.

Ekspor Agustus turun 1 persen dari tahun sebelumnya, penurunan terbesar sejak Juni, di mana saat itu sempat turun 1,3 persen. Perlambatan ini tidak sesuai dengan ekspektasi analis yang memperkirakan kenaikan 2 persen. Ekspektasi analis didasarkan pada melemahnya yuan dan kenaikan tarif September akan membuat Tiongkok mengekspor besar-besaran di bulan Agustus.

"Ekspor masih melemah di tengah-tengah depresiasi yuan substansial, hal ini mengindikasikan lemahnya permintaan eksternal sebagai faktor utama kenapa ekspor melambat," kata Zhang Yi, ekonom di Zhong Hai Sheng Rong Capital Management, kepada CNBC.com.

Ekspor ke AS pada bulan Agustus turun drastis hingga 16 persen year-on-year, sementara impor dari AS turun 22,4 persen. Kalangan ekonom memperkirakan bahwa perekonomian Tiongkok akan terus melambat dalam beberapa bulan ke depan sebagaimana terindikasi dari data melemahnya permintaan ekspor dan kenaikan tarif masuk ke AS yang akan berlaku pada 1 Oktober 2019 dan 15 Desember 2019.

Tidak hanya ke AS, ekspor ke Eropa, Korsel, Australia dan Asia Tenggara juga melambat, sementara ke Jepang dan Taiwan tumbuh sedikit.

Impor Tiongkok melemah empat bulan berturut-turut sejak April. Impor menurun 5,6 persen di bulan Agustus, sama dengan penurunan di bulan Juli. Permintaan domestik dan harga komoditas yang melemah disinyalir menjadi penyebab turunnya impor.
Tiongkok mencatat surplus US$ 34,84 miliar di bulan Agustus, di bawah estimasi analis US$ 4 miliar. Sementara di bulan Juli, surplus tercatat lebih tinggi di angka US$ 45,06 miliar.

Tiongkok masih mencatat surplus perdagangan dengan AS bulan Agustus sebesar US$ 26,95 miliar, turun sedikit dari US$ 27.97 miliar di bulan Juli. Dalam delapan bulan terakhir, Tiongkok masih surplus US$ 195,45 miliar dengan AS. Surplus yang begitu besar ini menjadi salah satu pemicu AS menaikkan tarif impor dari Tiongkok.



Sumber: CNBC