Kuota FLPP Habis, Apersi Banten Siap Manfaatkan Skema BP2BT

Kuota FLPP Habis, Apersi Banten Siap Manfaatkan Skema BP2BT
Jajaran pengurus Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Banten. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Rabu, 18 September 2019 | 08:43 WIB

Tangerang, Beritasatu.com - Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Banten menyatakan siap memanfaatkan skema bantuan pembiayaan perumahan berbasis tabungan (BP2BT) sebagai alternatif pembiayaan rumah subsidi, terkait habisnya kuota fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP).

Ketua Apersi Banten, Safran Edy Harianto, mengatakan, skema BP2BT sejatinya bukanlah skema baru dan sudah berjalan beberapa tahun lalu.

"Hanya saja, skema ini kalah populer dari FLPP dan belum banyak pengembang yang merealisasikan karena memang kurang sosilisasi dari pemerintah. Pengembang lebih banyak memilih skema FLPP yang lebih familiar dan sudah dijalankan selama ini,” ujar Safran kepada Beritasatu.com seusai pertemuan DPD Apersi Banten, di Tangerang, Selasa (17/9/2019) petang.

Safran menjelaskan, skema BP2BT bisa jadi solusi atau cara lain yang akan ditawarkan pada masyarakat terkait kuota rumah subsidi. Skema ini, dinilai bisa menjadi nafas tambahan bagi pengembang yang memasarkan rumah subsidi.

"BP2BT kita harapkan bisa menjadi solusi lain untuk kuota rumah bersubsidi, ketika FLPP habis. Meski demikian, Apersi Banten belum mengetahui kapan skema ini mulai realisasi. Namun, setelah ada sosialisasi, kami upayakan secepatnya bisa terlaksana,” jelas Safran.

Lebih lanjut, Safran menambahkan, Apersi Banten berharap skema BP2BT dapat segera direalisasikan. Pasalnya, sudah 2 bulan belakangan ini, pengembang rumah subsidi di Banten mengalami kondisi tersendatnya penjualan. Padahal, saat ini kebutuhan rumah subsidi di Banten sangat besar.

"Kami tentu menyadari, penerapan skema ini juga perlu waktu dalam realisasinya, dan tidak bisa dalam waktu dekat ini. Selain itu, yang membutuhkan juga banyak, bukan hanya Apersi Banten saja, ada daerah lain juga dan organisasi pengembang lain juga,” tandas Safran.

Ketua Dewan Penasihat Apersi Banten, Vidi Surfiadi mengatakan, skema BP2BT ini memliki keunggulan yaitu subsidi dalam uang muka yang besarannya bisa sampai Rp 40 juta. Walau diakui bunga kreditnya berbeda dengan FLPP, BP2BT memakai bunga komersial.

"Namun dari sisi konsumen, uang muka yang besar ini akan mengurangi nilai kredit. Jika ekonomi mereka membaik dan memiliki rezeki lebih, maka konsumen akan mudah melunasinya. Berbeda dengan skema FLPP yang masih besar jumlah kreditnya,” tegas Vidi.

Menurut Vidi, skema ini bisa menjadi solusi alternatif pembiayaan rumah subsidi. Targetnya, program BP2BT yang akan segera direalisasikan oleh Apersi Banten dalam tahap awal sebanyak 1.000 unit.

"Kita akan manfaatkan anggota Apersi Banten yang jumlahnya mencapai 285 perusahaan pengembang, yang berarti sama dengan jumlah proyek. Artinya, setiap satu proyek maka sekitar 5 konsumen bisa memanfaatkan skema BP2BT ini,” pungkas Vidi.



Sumber: BeritaSatu.com